Hujan yang terasa semakin besar semakin menguatkan niat saya untuk pulang saat itu. Entahlah, terasa sangat aneh dan tidak biasa. Bagi saya, (anak hilang) yang biasa jarang pulang (berhari-hari), walaupun jarak dari rumah ke tempat biasa beraktifitas tidak terlalu jauh. Konon menurut orang-orang tua, keluarlah dulu dari rumah dan lakukan apa saja yang bisa kamu lakukan, maka akan banyak manfaat datang kepadamu. Mungkin itu yang mendasari saya kenapa selalu beranjak dari rumah sejak pagi buta. Dan memang, banyak sekali manfaat selalu saya dapatkan.
Alasan lain, karena pada dasarnya saya sangat suka suasana pagi hari. Masa dimana udara masih terasa segar diiringi suara burung kota yang bersahutan. Dinamika kesibukkan dari orang-orang yang hendak memulai aktifitasnya. Melihat orang yang sama pada tempat yang sama, dan melakukan hal yang sama. Semua itu secara tidak langsung menciptakan suatu ikatan emosional. Menjadi saling mengenal secara ikatan bathin walaupun satu sama lain tidak mengenal nama. Ada romantisme tersendiri ketika merasakan itu semua.
Bandung dua hari kemarin diramaikan oleh aksi pemogokan ratusan armada angkutan kota, menolak kehadiran angkutan massal perkotaan yang menurut saya sangat dipaksakan kehadirannya. Saya tidak menyadari itu, dan sadar ketika berteduh sembari menunggu angkutan umum datang, di sebuah kios rokok di pertigaan jalan sebuah kampus negeri terkenal.
Satu bungkus rokok keretek saya beli. Saya hendak nyalakan satu batang, tapi pemantik api yang selalu setia berada di tas, tak kunjung menyala. Melihat gelagat itu, si penjual rokok spontan menawarkan pemantik yang dia miliki.
Sebutlah namanya Joni, usianya mungkin jauh di bawah saya, jika melihat dari wajah serta atribut yang dia pakai. Tak disangka si Joni nanya untuk coba memulai percakapan, budaya yang sudah jarang terjadi di kota besar. “Pulang kang?“ ucapnya sambil membereskan dagangannya yang tidak seberapa. “Oh, iya,” ucap saya, sembari mananyakan mobil hijau yang tak kunjung datang. Joni tak menjawab, malah balik nanya. “Jam berapa sekarang?” “Sepuluh lebih lima belas” ucap saya sambil diiringi asap rokok yang keluar dari mulut yang kering. “Oh, tunggu aja. Emang agak jarang kalo udah larut malam,” kata Joni singkat.
Obrolan pun berlanjut, sampai rokok yang saya hisap bara apinya hampir menyentuh label kuning. Dan angkutan kota yang dinanti pun datang. Saya bergegas naik (dengan mematikan rokok dan menyimpan puntungnya di saku) sambil memberi isyarat pamit sama Joni. Kehangatan lewat perbincangan singkat saya dapatkan saat itu dari Joni. Thanks Jon.,
Tak lama, saya tiba di pemberhentian pertama, untuk transit berganti angkutan umum yang akan mengantarkan saya sampai ke rumah. Hujan masih belum berhenti, dan saya menjadi sedikit basah dibuatnya. Kali ini saya berteduh sejenak di depan sebuah toko yang sudah tutup. Tak jauh dari tempat saya berpijak, terdapat sebuah karung besar yang tergeletak begitu saja. Tiba-tiba datang seorang bapak tua mendekati karung tadi, sambil membawa kardus bekas yang sudah rata. Tanpa ditanya, si bapak tadi berguman:
“Ya, beginilah kalau hujan datang. Ga enak bagi pemulung seperti saya,” ucap bapak tadi sambil menyalakan sebatang rokok dari sakunya. Buat saya, celoteh si bapak tadi adalah isyarat akan keluh kesahnya, tanpa mengurangi rasa syukur atas apa yang harus dia terima. Tadinya, sebagai bentuk apresiasi untuk menyenangkan hati si Bapak, saya bertanya tentang segala sesuatu hal.
Percakapan dimulai dengan menanyakan hendak pulang kemana. Saya merasa sangat bersalah saat itu, setelah si bapak tadi menjawab asal usulnya. Ternyata kardus bekas yang dia bawa adalah alas yang akan dijadikan tempat tidurnya nanti. Bapak ini tiap malam tidur di depan toko, di atas trotoar, berselimutkan angin malam yang dingin! Spontan, saya alihkan pembicaraan dengan maksud tidak ingin membuat si bapak semakin larut dalam kesedihan.
Kebetulan dia berasal dari daerah yang pernah saya kunjungi, Jampang Selatan arah yang mau ke Cidaun. Ketika saya bilang pernah ke tempat asalnya, wajah si bapak langsung sumringah. Dia ceritakan semua keindahan yang ada di tempat kelahirannya. Petak-petak sawah, air yang segar, garis pantai yang panjang, gembala kambing yang jalan beriringan ketika senja. Semua itu diceritakan si bapak dengan semangat. Setidaknya, saya telah membuat si bapak sejenak melupakan kondisinya saat itu. Hidup di jalan setiap hari, dengan langit sebagai atap ketika malam tiba.
Ada satu hal yang membuat saya terkagum saat itu, ketika coba ikut prihatin atas kondisinya. Si bapak dengan bijak menjawab, bahwa dia ikhlas dengan apa yang harus dia terima sekarang, karena semuanya berasal dari atas. Walaupun terkadang dia mengeluh, itu hanya spontanitas yang sebenarnya tidak diiyakan hati.
Dari pertemuan dengan Joni dan bapak tua, ada satu yang membuat saya berpikir dan merenung ketika tiba di rumah. Yaitu, arti sebuah kehangatan. Tentang kerinduan akan rumah sebagai tempat paling nyaman ketika kita jauh darinya. Tentang kehangatan yang akan kita rasakan ketika bertemu dengan orang-orang yang kita cintai. Romantisme ketika bersentuhan secara emosional dengan ruang yang kita kenal, pun cinta yang kita rasakan dari orang-orang terdekat. Beruntung buat saya selalu bisa pulang ke rumah pada akhirnya, walau kadang harus pergi jauh untuk beberapa hari kerena tanggung jawab pekerjaan.
Mungkin ini berasal dari atas, kenapa tiba-tiba membuat saya ingin pulang saat itu. Membuat saya bisa bertemu dengan Joni dan si bapak tua, belajar dari mereka tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Mungkin ini do’a dari orang–orang yang saya cintai di rumah atas keselamatan saya, ketika pergi meninggalkan mereka untuk sesaat. Memang, semua telah direncanakan oleh-Nya.
Malam itu saya berdoa, untuk keselamatan semua orang yang saya cintai. Terutama untuk kedua orang tua saya yang selalu sabar menantikan kepulangan saya di rumah, ketika saya pergi meninggalkan mereka.