“I’m praying
To be
In a generous mode
The kindness kind”
tua sejoli
Juli 3, 2009Dua orang kakek masih mengais rejeki di sebuah pasar malam, pada acara helaran di alun-alun Kabupaten Garut. Menurut sang kakek, mereka pulang ke rumah seiring dengan berakhirnya acara, sekitar jam 00.00. Kedua orang kakek ini telah berdagang selama 30 tahun! menajajakan kacang rebus dan rokok batangan, yang untungnya tidak seberapa. Kesejahteraan tak kunjung hinggap pada mereka berdua, walau telah mengalami banyak pergantian generasi. Siapa yang memimpin, tak berdampak pada kehidupan mereka. Mau yang biru atau yang kuning, mereka semua sama aja ucap mereka.
aurora
Juni 13, 2009Treading the glacier head. Looking hard for moments of shine. From twilight to twilight. Utter mundane. Aurora, Goddess sparkle. Shoot me beyond this suffer. The need is great. Aurora, Goddess sparkle. A mountain shade suggests your shape. I tumbled down on my knees. Fill the mouth with snow. The way it melts. I wish to melt into you. Aurora, utter mundane. Spark the sun off me.,
sebatang rokok kretek dan dua ekor anak kucing
April 25, 2009Walau tak ada lagi yang harus aku kerjakan malam itu, rasa-rasanya pikiran tak pernah bisa diam. Ia meloncat-loncat seperti hendak menciptakan sketsa tentang sesuatu. Eksodus perasaan yang berkelompok, tampaknya siap menyerang otak sebagai sasaran. Suara-suara yang datang dari pikiran secara bersahutan, juga menambah sesaknya otak. Seperti tak menyisakan ruang bagi harapan yang sebenarnya ingin aku ajak pula.
Ya, mungkin ini karena miskinnya oksigen yang aku hirup hari ini. Hari-hari yang selalu ditemani laptop dan sambungan internet. Di sebuah kamar yang telah berfungsi sebagai ruang kerja beberapa bulan belakangan ini. Tanpa dikomondoi kehendak, aku gerakkan kaki keluar kamar menuju balkon di belakang.
Langit sangat terang malam itu, semua bintang tampak terlihat jelas berkerumun. Aku duduk di atas sofa usang ditemani dua ekor anak kucing yang sedang tertidur lelap. Kubakar rokok kretek yang sengaja kubawa tadi ketika keluar. Aku hisap dalam-dalam setiap incinya, dengan harapan semoga asapnya bisa membawa serta semua pikiran aneh yang menyesaki otak saat itu.
Kurebahkan kepala sembari coba menerka apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku saat itu. Waktu terus berjalan seakan tak mau tahu tentang apa yang terjadi. Pikirku, mungkin ini suatu gejala yang wajar terjadi di menit-menit akhir, ketika seseorang akan menjadi semakin tua. Dengan semua dilema yang datang secara tiba-tiba. Pun seperti memikirkan banyak hal yang sebenarnya tak perlu untuk dipikirkan.
Rokok yang kupegang, sudah tinggal setengahnya. Dan waktu menunjukkan tinggal itungan detik saja menuju ke pergantian masa yang akan sangat berarti bagi hidupku. Kutegakkan bedan, dan kusimpan sejenak rokok tersebut.
Akhirnya, 00:00 24.04.09. Diiringi dengan suara malam dan harapan yang terbawa angin, aku menjadi lebih tua. Kupejamkan mataku seraya berdo’a dalam hati. Do’a tentang rasa syukur yang mendalam kepada-Nya atas semua rahmah dan karunia-Nya kepadaku. Do’a tentang ucapan terima kasihku yang tulus kepada semua orang yang telah sangat baik kepadaku. Do’a tentang permintaan maafku atas semua khilaf yang masih selalu aku lakukan. Do’a tentang semua harapanku yang semoga terwujud di usiaku yang semakin tua.
Kuucapkan juga janji. Tentang sesuatu yang akan aku coba tepati dan semoga terwujud di kemudian hari.
Setelah kuucapkan itu semua, kubuka kembali mataku. Bintang-bintang itu masih bertaburan dan terang menghiasi langit. Sangat indah. Semoga ini adalah suatu pertanda tentang awal yang baik bagi diriku. Amien,.
sustainable green fashion
April 16, 2009“Ketika isu lingkungan hidup menjadi fashion.,”
Tayangan film inconvenient truth mengawali kemunculan 11th Hours yang dinarasikan oleh Leornado di Caprio dan film – film dokumenter lain yang mengangkat isu lingkungan hidup, terutama tentang global warming. Al Gore berhasil mengangkat isu global warming menjadi sebuah isu yang ngetren di dunia. Setiap orang tidak henti membicarakan pemanasan global melalui berbagai media. Meski obrolan tentang global warming terkadang berlangsung sangat singkat di tengah sebagian kalangan masyarakat, paling tidak, kini masyarakat mulai membicarakan, bergosip hingga membuat acara khusus untuk berbicara tentang si global warming.
Masyarakat awam menjadi peduli terhadap keadaan lingkungan di dunia, dan isu lingkungan hidup adalah isu yang wajib didengar seperti halnya launching merk Guess, Hermes atau series Nokia baru sebagai raja gadget di Asia. Isu lingkungan berhasil memperoleh rubrik istimewa di kepala manusia.
Betapa melegakan perubahan sikap dan cara pandang ini. Berpuluh tahun lamanya banyak ahli dan para peduli lingkungan berkoar – koar berbicara secara formal atau sekedar menginginkan masyarakat mendengarkan sejenak atau membaca selebaran mengenai isu lingkungan, dimana kala itu berpuluh mata pula malah mengalihkan perhatiaannya, hingga pada akhirnya kesuksesan Al Gore memutarbalikkan hal tersebut.
Hampir seluruh majalah dari mulai majalah politik bahkan fashion magazine menyediakan segmen tentang lingkungan hidup, banyak event – event yang mengangkat tema lingkungan hidup, retail market berlomba menawarkan berbelanja cara hijau. Slogan menjaga lingkungan kini berserakan seperti selebaran toko yang memberitahukan produk dengan harga diskon. Sebuah perkembangan yang seharusnya memberikan para ahli lingkungan dan kaum peduli lingkungan bisa bernafas lega.
Tunggu sebentar, apa saya menuliskan kata ‘Seharusnya’ ?
1780 mdpl
Februari 12, 2009Wuusshhh…! bola murah produk lokal itu pun melambung di udara. Pemain sayap berbaju kuning menyambut datangya bola dengan lompatan dan busungan dada. Hups!! bola hinggap di dada, mencetak bentuk segi enam berwana cokelat di kaosnya yang lusuh. Tiba-tiba, terjadi manuver tajam dari tengah. Penyerang berambut jambul bergegas menuju mulut gawang. Gagah, dengan kaki tak bersepatu dan celana panjang yang digulung. Umpan lambung terkirim dari sayap, dengan laju bola yang deras dan menukik. Bola disambut dengan kaki tak besepatu yang dekil nan berotot. GOOOLLL!!!! es cingcau gratis sedikit aman di tangan. Selebrasi serta teriakan kemenangan melengking di udara, mendekati awan yang terasa sangat dekat di sini.
Suatu pemandangan indah yang sudah sangat lama jarang aku lihat. Pertandingan sepak bola antar kampung di sebuah lapang bola bertanah luas. Tanah yang tak bertuan, tak berbeton, dan tak berpagar. Tanah lapang dengan rumput asli bukan sintetis dan udara sejuk yang asli, bukan atas rekayasa teknologi.
Sore itu, si bola kembali menari. Menjelajah diantara riam gelombang udara. Diantara butir-butir awan nan tipis. Di ketinggian 1780 meter dibawah permukaan laut, dengan latar kota Bandung yang tampak semrawut.
senja di gb. keberangkatan
Januari 25, 2009Di lobby itu, semua tempat duduk sudah terisi. Ada yang sambil ngoceh mesra dengan telepon genggamnya. Ada yang nonton televisi sembari mengobrol dengan sejawatnya, sambil sesekali ber sms-an. Ada yang sibuk mengemas ulang barang hasil belanja (dengan kantong bercap FO ternama di Bandung) akhir pekan kemarin, dengan penyerata model terbaru yang tak kunjung lepas dari tangan. Ada yang baca novel dengan tagline “novel terlaris abad ini” di sampulnya, sembari sesekali mengeluarkan handphone di sakunya. Ada yang senyum-senyum sendiri, jadi autis sembari ngeliat lcd tuh hangpone. Ada yang kedua tangannya memegang dua mobile phone sekaligus dengan percakapan yang menyebut nominal yang ga kebayang segede apa kalo liat wujudnya langsung.
ANJ*R!!!
muzzle
Januari 16, 2009I fear that I’m ordinary, just like everyone. To lie here and die among the sorrows. Adrift among the days. For everything I ever said. And everything I’ve ever done is gone and dead. As all things must surely have to end. And great lovers will one day have to part. I know that I am meant for this world. My life has been extraordinary. Blessed and cursed and won. Time heals but I’m forever broken. By and by the way… Have you ever heard the words. It’s for the girl I’ve loved all along. Can a taste of love be so wrong. As all things must surely have to end. And great lovers will one day have to part. I know that I am meant for this world. And in my mind as I was floating. Far above the clouds. Some children laughed I’d fall for certain. For thinking that I’d last forever. But I knew exactly where I was. And I knew the meaning of it all. And I knew the distance to the sun. And I knew the echo that is love. And I knew the secrets in your spires. And I knew the emptiness of youth. And I knew the solitude of heart. And I knew the murmurs of the soul. And the world is drawn into your hands. And the world is etched upon your heart. And the world so hard to understand. Is the world you can’t live without. And I knew the silence of the world.
fu*king gloaming
Januari 15, 2009“Rescue me from me and all that i believe. Our hopes dead gathering dust to dust. In faith, in compassion, and in love. Goodnight, to every little hour that you sleep tite. May it hold you through the winter of a long night. And keep you from the loneliness of yourself. Heart strung is your heart frayed and empty. Cause it’s hard luck, when no one understands your love. Yes, I am waiting. In silence throne. My blood of treason. My tears of home. No more a feeling. Than being cold. Of playing on. Just let me out.,”
against the wall
Januari 3, 2009Si sapi mungkin tak mau tahu apa yang ada di sekelilingnya. Dia mungkin hanya berharap agar segera “dimusnahkan” dengan khidmat saat itu, demi kesejahteraan kaum manusia. Terlepas dari apa yang akan terjadi pada si sapi. Saya, sebagai salah satu kaum itu, yang diciptakan paling mulia dari semua makhluk, tentu miris melihat pemandangan ini. Tanah lapang tempat saya bermain bola dulu, kini tergantikan oleh bangunan tinggi mewah yang hanya bisa diakses oleh mereka para kaum arikstokrat dan borjuis. Dinding megah berinisial koorporasi itu telah merampas hak bermain bagi anak-anak kecil di kampung saya. Mereka kini hanya bisa berimajinasi di balik dinding megah nan miris itu. Tentang bola plastik yang seharusnya mereka tendang melambung di tanah yang sudah bertuan itu. Turut berduka cita atas hilangnya lapangan bola di tempat saya besar dan dilahirkan.
hujan dan cerita malam
Desember 30, 2008Hujan yang terasa semakin besar semakin menguatkan niat saya untuk pulang saat itu. Entahlah, terasa sangat aneh dan tidak biasa. Bagi saya, (anak hilang) yang biasa jarang pulang (berhari-hari), walaupun jarak dari rumah ke tempat biasa beraktifitas tidak terlalu jauh. Konon menurut orang-orang tua, keluarlah dulu dari rumah dan lakukan apa saja yang bisa kamu lakukan, maka akan banyak manfaat datang kepadamu. Mungkin itu yang mendasari saya kenapa selalu beranjak dari rumah sejak pagi buta. Dan memang, banyak sekali manfaat selalu saya dapatkan.
Alasan lain, karena pada dasarnya saya sangat suka suasana pagi hari. Masa dimana udara masih terasa segar diiringi suara burung kota yang bersahutan. Dinamika kesibukkan dari orang-orang yang hendak memulai aktifitasnya. Melihat orang yang sama pada tempat yang sama, dan melakukan hal yang sama. Semua itu secara tidak langsung menciptakan suatu ikatan emosional. Menjadi saling mengenal secara ikatan bathin walaupun satu sama lain tidak mengenal nama. Ada romantisme tersendiri ketika merasakan itu semua.
Bandung dua hari kemarin diramaikan oleh aksi pemogokan ratusan armada angkutan kota, menolak kehadiran angkutan massal perkotaan yang menurut saya sangat dipaksakan kehadirannya. Saya tidak menyadari itu, dan sadar ketika berteduh sembari menunggu angkutan umum datang, di sebuah kios rokok di pertigaan jalan sebuah kampus negeri terkenal.
Satu bungkus rokok keretek saya beli. Saya hendak nyalakan satu batang, tapi pemantik api yang selalu setia berada di tas, tak kunjung menyala. Melihat gelagat itu, si penjual rokok spontan menawarkan pemantik yang dia miliki.
Sebutlah namanya Joni, usianya mungkin jauh di bawah saya, jika melihat dari wajah serta atribut yang dia pakai. Tak disangka si Joni nanya untuk coba memulai percakapan, budaya yang sudah jarang terjadi di kota besar. “Pulang kang?“ ucapnya sambil membereskan dagangannya yang tidak seberapa. “Oh, iya,” ucap saya, sembari mananyakan mobil hijau yang tak kunjung datang. Joni tak menjawab, malah balik nanya. “Jam berapa sekarang?” “Sepuluh lebih lima belas” ucap saya sambil diiringi asap rokok yang keluar dari mulut yang kering. “Oh, tunggu aja. Emang agak jarang kalo udah larut malam,” kata Joni singkat.
Obrolan pun berlanjut, sampai rokok yang saya hisap bara apinya hampir menyentuh label kuning. Dan angkutan kota yang dinanti pun datang. Saya bergegas naik (dengan mematikan rokok dan menyimpan puntungnya di saku) sambil memberi isyarat pamit sama Joni. Kehangatan lewat perbincangan singkat saya dapatkan saat itu dari Joni. Thanks Jon.,
Tak lama, saya tiba di pemberhentian pertama, untuk transit berganti angkutan umum yang akan mengantarkan saya sampai ke rumah. Hujan masih belum berhenti, dan saya menjadi sedikit basah dibuatnya. Kali ini saya berteduh sejenak di depan sebuah toko yang sudah tutup. Tak jauh dari tempat saya berpijak, terdapat sebuah karung besar yang tergeletak begitu saja. Tiba-tiba datang seorang bapak tua mendekati karung tadi, sambil membawa kardus bekas yang sudah rata. Tanpa ditanya, si bapak tadi berguman:
“Ya, beginilah kalau hujan datang. Ga enak bagi pemulung seperti saya,” ucap bapak tadi sambil menyalakan sebatang rokok dari sakunya. Buat saya, celoteh si bapak tadi adalah isyarat akan keluh kesahnya, tanpa mengurangi rasa syukur atas apa yang harus dia terima. Tadinya, sebagai bentuk apresiasi untuk menyenangkan hati si Bapak, saya bertanya tentang segala sesuatu hal.
Percakapan dimulai dengan menanyakan hendak pulang kemana. Saya merasa sangat bersalah saat itu, setelah si bapak tadi menjawab asal usulnya. Ternyata kardus bekas yang dia bawa adalah alas yang akan dijadikan tempat tidurnya nanti. Bapak ini tiap malam tidur di depan toko, di atas trotoar, berselimutkan angin malam yang dingin! Spontan, saya alihkan pembicaraan dengan maksud tidak ingin membuat si bapak semakin larut dalam kesedihan.
Kebetulan dia berasal dari daerah yang pernah saya kunjungi, Jampang Selatan arah yang mau ke Cidaun. Ketika saya bilang pernah ke tempat asalnya, wajah si bapak langsung sumringah. Dia ceritakan semua keindahan yang ada di tempat kelahirannya. Petak-petak sawah, air yang segar, garis pantai yang panjang, gembala kambing yang jalan beriringan ketika senja. Semua itu diceritakan si bapak dengan semangat. Setidaknya, saya telah membuat si bapak sejenak melupakan kondisinya saat itu. Hidup di jalan setiap hari, dengan langit sebagai atap ketika malam tiba.
Ada satu hal yang membuat saya terkagum saat itu, ketika coba ikut prihatin atas kondisinya. Si bapak dengan bijak menjawab, bahwa dia ikhlas dengan apa yang harus dia terima sekarang, karena semuanya berasal dari atas. Walaupun terkadang dia mengeluh, itu hanya spontanitas yang sebenarnya tidak diiyakan hati.
Dari pertemuan dengan Joni dan bapak tua, ada satu yang membuat saya berpikir dan merenung ketika tiba di rumah. Yaitu, arti sebuah kehangatan. Tentang kerinduan akan rumah sebagai tempat paling nyaman ketika kita jauh darinya. Tentang kehangatan yang akan kita rasakan ketika bertemu dengan orang-orang yang kita cintai. Romantisme ketika bersentuhan secara emosional dengan ruang yang kita kenal, pun cinta yang kita rasakan dari orang-orang terdekat. Beruntung buat saya selalu bisa pulang ke rumah pada akhirnya, walau kadang harus pergi jauh untuk beberapa hari kerena tanggung jawab pekerjaan.
Mungkin ini berasal dari atas, kenapa tiba-tiba membuat saya ingin pulang saat itu. Membuat saya bisa bertemu dengan Joni dan si bapak tua, belajar dari mereka tentang arti kehidupan yang sesungguhnya. Mungkin ini do’a dari orang–orang yang saya cintai di rumah atas keselamatan saya, ketika pergi meninggalkan mereka untuk sesaat. Memang, semua telah direncanakan oleh-Nya.
Malam itu saya berdoa, untuk keselamatan semua orang yang saya cintai. Terutama untuk kedua orang tua saya yang selalu sabar menantikan kepulangan saya di rumah, ketika saya pergi meninggalkan mereka.
mereka sekarang
Desember 7, 2008Ceritanya, malam itu ketemu beberapa teman sma. Sedikit tapi ada maknanya, pun besar muatan romantismenya. Walaupun dengan perbincangan, yang sebenarnya selalu menjadi tema yang sama setiap kali ketemu, tapi tak pernah sedikit pun ditemui kebosanan.
Tentu, iringan gelak tawa selalu hadir jika cerita masuk ke episode kenakalan (yang konyol) waktu dulu. Jaman ketika merokok ‘seteng-seteng’ (satu batang rame-rame) mojok di sudut kamar mandi sekolah, atau ketika disidang bersama di ruang guru karena ketahuan nyuruh adik kelas beli kartu gapleh. Tensi obrolan semakin meninggi, ketika nama ‘nona’ primadona sekolah dulu keluar. Saling ejek pun tak dapat dihindarkan disertai kehangatan persahabatan yang semakin terasa kenyamanannya. Sangat konyol memang jika mengingat semua sejarah itu. Tapi sangat menarik dan lumayan ampuh mengendurkan urat syaraf.
Ada satu yang menarik ketika kita berkumpul ketika dengan kawan lama. Yaitu mencermati perubahan yang terjadi pada si kawan lama. Dengan semua simbol yang mereka kenakan, ataupun dari apa yang mereka bicarakan. Yang seakan hendak berucap “Wooii ini gw sekarang.,” Kadang, gerak tubuh pun seperti memberikan isyarat untuk lebih menguatkan. Sehingga ucapan jadi berubah menjadi “WOOIIII INI GW SEKARANG!!”
“Everything changes, in every time and cavity.”
suatu hari yang indah buat saya :)
Nopember 26, 2008Semalam, karena tak bisa tidur (secara tak sengaja) saya melihat sebuah film perang yang sarat akan adegan cipratan darah, rentetan agresi dan desingan amarah yang membabi buta. Dan seperti biasa, karena film ini produk Holywood, Amerika-lah jagoannya. Dengan semua luapan kenarsisan akan kegagahan pasukannya, kecanggihan serta kemutahiran peralatan tempur yang mereka pakai. Dan tetap, negara-negara dunia ketiga-lah yang menjadi objek untuk mereka kalahkan. Tentu, teroris adalah alasan utamanya. Sebuah penipuan terbuka dengan segala kebohongan yang tidak samar demi terciptanya sebuah kolonialisme bentuk baru. itu adalah alasan yang sangat tidak canggih dan tidak mutahir.
Besok paginya, di surat kabar lokal, saya membaca sebuah artikel yang membahas seputar senjata api. Dimuat satu halaman penuh, lengkap dengan foto-foto yang menarik. Di artikel turunannya, dikupas seputar tingginya animo masyarakat dalam hal kepemilikan senjata api. Artikel tentang alat pelontar timah panas ini, diletakkan bersebalahan dengan halaman berita yang melaporkan tentang pembobolan sebuah mesin atm. Judulnya sangat provokatif, dengan penggunaan huruf yang sangat besar. Mungkin ini kemauan dari si redaktur agar jadi perhatian orang untuk membacanya.
Masih di pagi hari, ketika mencicipi sarapan, tiba-tiba pandangan saya tertuju pada sebuah berita di televisi yang melaporkan tentang sebuah kasus mutilasi yang dilakukan ibu kepada anaknya. Tanpa perasaan, si ibu “sakit jiwa” tersebut menghabisi nyawa anaknya sampai kepalanya terputus. Setidaknya berita ini telah berhasil membuat sarapan sup jagung saya pagi itu, menjadi terasa agak hambar.
Ketika hendak bekerja, sejenak saya melihat isi kotak surat elektronik yang masuk ke alamat saya. Di dalamnya terdapat sebuah postingan berita tentang hilangnya seorang aktivis mahasiswa. Diberitakan bahwa, kemungkinan hilangnya mahasiswa tersebut karena penculikan, atas eksistensinya di pergerakan kampus.
Ceritanya telah sampai di rumah. Ketika hendak merebahkan badan, lelah karena padatnya aktivitas hari itu, pun karena malam telah larut, saya nyalakan televisi dengan harapan bisa jadi media penghantar tidur. Headline news menyapa dengan berita utama tawuran antar mahasiswa dengan korban luka-luka yang tidak sedikit. Waktu dini hari sempat terbangun, televisi lupa untuk dimatikan karena ketiduran. Terlihat seorang wanita (dipaksakan) seksi membawakan sebuah acara infotainment dengan berita seputar perceraian artis ternama abad ini.
Suatu hari yang indah buat saya :) Kadang, media massa yang idealnya berfungsi utama sebagai sebuah sarana informasi yang mendidik, dengan sajian berita yang faktual, aktual dan informatif, mengesampingkan hal itu. Demi tujuan rating iklan dan jumlah permirsa, unsur hiburan (yang tidak mendidik) menjadi lebih ditonjolkan. Seperti sinetron dan infotainment yang telah menjadi teman setia ibu-ibu (bahkan anakk-anak). Dari pagi sampai pagi lagi. Pun liputan berita yang disuguhkan, lebih kepada sajian berita horor yang mencekam.
Akankah bayangan akan kenikmatan ketika mencicipi kopi di pagi hari, sembari membaca berita tentang pendidikan gratis atau keharmonisan antar suku bangsa, ras dan agama yang benar-benar terjadi tanpa ada motif atau kepentingan di belakangnya, hanya akan terjadi di negeri utopis sana?
siaran tatapan mata keroncong di RRI
Nopember 25, 2008
“Selamat malam para pendengar setia RRI Pro Dua FM, kembali kita berjumpa dalam acara…”
Demikian bait tak lengkap yang terucap oleh si nona penyiar sebagai prolog untuk menyapa pendengar. Terucap dengan suaranya yang khas, hangat dan bersahaja. Tak lama, melantunlah lagu “Bunga Anggrek” yang menjadi tembang pembuka. Kelak lagu ini akan berkumandang ke seluruh masyarakat Indonesia di pelosok nusantara. Dari ujung Sumatera sampai ujung Papua. Tak melihat ras, agama, suku bangsa maupun golongan, semuanya akan terhanyut dalam kebersamaan serta kenangan tersendiri tatkala mencicipi keroncong di radio nasional terbesar dan tertua ini.
RRI dan Keroncong, dua aktor pemersatu dari keberagaman masyarakat kita tercinta ini. MERDEKA! :)
selengkapnya di sini
ngadu domba
Oktober 28, 2008
Para koboy lokal itu tampak bergegas dengan setelan topi “laken”-nya yang khas. Bukan kemeja kulit yang mereka kenakan, tapi baju pangsi serba hitam yang turun di badan. Bukan revolver yang melingkar di pinggang, tapi golok asli buatan banten dengan ukiran kepala singa-nya yang khas. Dan bukan kuda yang mereka tunggangi, tapi domba kekar yang mereka bawa serta untuk dijadikan sebagai petarung sejati.
Prosesi ‘ngadu‘ domba adalah hajat bersama. Itu terlihat dari histeria kolektif para penonton yang datang. Mereka datang untuk mendukung petarung idola, lengkap dengan segala atribut yang membuat suasana di Babakan Siliwangi semakin meriah. Tarian kemenangan di panggung serta saweran, sesekali dilakukan para koboy itu tatkala ada domba yang terjungkal. Ada gengsi disela-sela raungan bunyi tanduk itu.
Tapi, sesunguhnya bukan hanya kemenangan yang dicari para juragan domba itu di kompetisi bulanan adu domba ini. Adalah kesukacitaan dan perjumpaan dengan kerabat yang mempunyai tensi emosional lebih tinggi dari sekedar gengsi. Pun mereka telah berperan dalam melestarikan tradisi budaya, di tengah laju peradaban yang menggila ini.
selengkapnya di sini
hedonisme ala perbatasan
Oktober 20, 2008Pagi itu kami dihampiri oleh dua wanita dayak dewasa dengan tas keranjang di punggung. Pada sebuah dusun bernama Ungkit-ungkit di Kec. Puttusibau Kab. Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Tampaknya mereka hendak menumpang pada mobil yang kami bawa saat itu, menuju ladang untuk mengolah lahan. Sebuah mobil canggih 4×4 WD tak bersurat dan berplat nomor.
Mobil itu, adalah sebagian dari sisa simbol kemegahan ketika trend pencurian kayu menggeliat di sini. Ketika cerita itu terjadi, banyak masyarakat kita menjadi raja-raja kecil di daerahnya. Dengan semua kemewahannya yang temporer, pun itu muncul dengan sekejap. Banyak pemandangan absurd di sini. Orang-orang pergi ke ladang dengan menggunakan mobil matic, bluetooth yang terpasang di telinga sambil menyabit rumput, motor-motor terbaru dengan merk yang asing, adalah beberapa dari pemandangan itu. Semuanya itu bisa didapatkan dengan murah mudah dari Malaysia sana.
Sesungguhnya itu bukanlah suatu kesejahteraan, tapi kemewahan temporer yang meruntuhkan tatanan sosial dan budaya masyarakat kita. Juga suatu keironisan, dimana masyarakat di perbatasan disana menganggap bahwa kesejahteraan itu seperti apa yang terlihat di layar televisi. Pun itu dimunculkan oleh sesuatu yang terlarang, pencurian kayu.
Kini, ketika pencurian kayu reda, lambat laun mereka harus rela untuk menanggalkan simbol-simbol kemewahan itu, yang sebenarnya belum waktunya untuk mereka terima. Ketika itu harus terjadi, mereka seakan tak mau untuk meninggalkan gaya hidup ‘enak’ tersebut. Tak mau untuk kembali mengolah ladang karena pernah mencicipi rupiah yang lebih besar tanpa usaha keras. Sampai timbullah cerita tentang tkw dengan semua kisahnya yang sedih itu.
Pak Itam
Oktober 1, 2008
Namanya Pak Itam. Dia adalah kapten kapal Riak Bumi. Saat itu Pak Itam membangunkan kami untuk makan sahur. Nasi dalam kastrol serta ikan hasil tangkapan semalam telah sigap dia sajikan, dengan bumbu seadanya. “Ayo tambah nasinya” ucap pak Itam. Kami pun tak kagok, nambah nasi dan makan dengan lahap.
Setiap makan bersama selalu terasa nikmat, apapun menunya. Waktu buka kemarin, ada sedikit kejutan. Pak Itam memberikan kami sate ayam lontong, satu orang satu bungkus. Kami sedikit kaget, karena tidak mungkin ada tukang sate ayam di tengah danau begini. Ternyata Pak Itam membelinya tadi sore, ketika kami berlabuh di Suhaid menggunakan perahu panjang. Makan sate waktu itu di hanggar kapal, ditemani sisa senja dengan gradasi warna di langit. Pun, dengan alunan lagu keroncong yang sengaja diputar dari telepon genggam. Sangat syahdu! Pak Itam tampak apal beberapa bait lagu, sesekali mengiringi dengan siulannya.
Memang, setiap senja sangat indah di sini. Kadang kami menghabiskan malam hanya dengan rebahan di hanggar kapal, sambil menghisap rokok dalam-dalam, melihat jutaan bintang serta mendengarkan senandung dari Pak Itam. Atau memancing sampai dini hari ditemani Pak itam yang hanya tersenyum ketika berhasil mendapatkan ikan kecil.
Pak Itam, seorang kapten kapal juga figur Bapak bagi kami saat itu. Berat rasanya ketika kami harus pergi dan meninggalkan Pak Itam seorang diri.,
lihat selengkapnya di sini
Owa Jawa menantikan rumah baru
September 25, 2008Induk kera itu tiba-tiba datang sambil bermandikan darah. Diraihnya selember daun. Ia memerah air susunya yang ditampung ke daun itu, lalu diberikannya kepada seorang pelancong. Pelan-pelan ia melepas bayi dalam pelukannya. Tak lama akhirnya dia mati.
Kutipan cerita di atas terjadi di Alas Roban dua puluh tiga tahun yang lalu. Perburuan yang menewaskan seekor induk kera oleh terjangan timah panas. Itu dilakukan demi mendapatkan anaknya untuk dijual. Di beberapa daerah, aktifitas terlarang ini terkait dengan pesanan. Semakin tinggi pesanan, maka akan semakin banyak induk kera yang mati diburu.
Dua puluh tiga tahun berlalu. Moris, nama seekor owa Jawa di Desa Maroko, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, nasibnya tak jauh beda seperti kera di di Alas Roban. Ibunya tewas di tangan pemburu. Tapi Moris sedikit beruntung masih bisa bernafas, walaupun tubuhnya terikat rantai besi berkarat. Primata ini telah hampir dua tahun jadi peliharaan majikannya. Moris dibeli ketika berumur dua bulan, dari pemburu di pinggiran jalan Garut Selatan.
Sekarang Moris berumur dua tahun. Rantai besi berkarat yang melilit pada tubuhnya meninggalkan luka yang terus menggerus. Walaupun raut muka primata endemik Jawa ini tampak riang, sesungguhnya hatinya menangis. Duka akan kehilangan ibunya tercinta harus ditambah pupusnya harapan untuk hidup bebas di hutan, yang hanya dia rasakan dua bulan saja. Karena akhirnya Moris hanya akan menjadi satwa liar yang tak akan pernah bisa liar lagi. Baca entri selengkapnya »
kelam di jamtigapagi
Juli 29, 2008Walaupun badanku berbaring penat, tapi sesungguhnya pikiran berlompatan seperti percik-percik listrik dalam sebuah korslet yang panjang. Lalu, bunga-bunga api itu semakin lama semakin tak beraturan. Bertubrukan satu sama lain dalam imaji-imaji yang aneh. Awan amat tipis, tetapi setitik hujan jatuh di alisnya yang mulai panjang. Dan aku baru sadar bahwa hujan yang menetes adalah air mata. Aku melihat sosok itu tersangkut di atasnya, kelopaknya basah seperti bunga di pagi hari.
Airmata terus mengalir ke arah rambut dan menghilang di dalam rambut. Seperti kepahitan dari tumpukan kekecewaan yang mencoba untuk disembunyikan. Seperti gairah-gairah yang dikekang. Seperti ketakutan yang tidak mau aku akui. Lantas, bagaimana aku mendamaikan serempak kenyataan yang saling bertentangan. Realita dari sesuatu yang kuimpikan dan yang ingin kutolak. Karena cinta bukanlah suatu hal yang direncanakan seperti perkawinan. Ia adalah karunia seperti semak yang muncul dan tumbuh di luar pagar.
Disaat kebekuan oleh kemelut hebat itu, yang membawa jiwa ini ke dalam rumangsa kekalahan, berakhirlah. Kini sebagai gantinya meletuplah ujungnya, melahirkan kesadaran baru dalam diri. Kini, apa yang hendak kukatakan merupakan sesuatu yang tersurat dari masa lampau ke masa datang. Apa yang ada sekarang dulu pun sudah ada, dan apa yang akan ada sebelumnya pun sudah ada. Hidup punya waktunya masing-masing.
Mimpi merupakan endapan bawah sadar yang terangkat untuk menjalin cerita dalam tidur. Begitu kuat rasa kehilangan dan cemas, sehingga dorongan pada ingatan merajut sebuah mimpi yang aneh. Dan cinta haruslah punya alasan untuk tumbuh, seperti benci yang juga tumbuh karena alasan tertentu. Kucoba mencari keindahan pada penderitaan, walaupun itu sulit.














