Menciptakan siklus berkelanjutan dengan konsep dapur hijau

Maret 11, 2007

Dewi sekarang punya hobi baru, memasak. Aktifitas ini digelutinya semenjak dapur di rumahnya direnovasi dengan konsep green kitchen. Minimalis tapi elegan. Nyaman dan betah. Dan yang penting ramah lingkungan.

Di tengah gencarnya tanda-tanda pemanasan global –dengan segala bencana yang kita rasakan sekarang– kiranya sudah mendesak dilakukan perubahan dalam gaya hidup kita. Harus kita akui bersama, kadang kita tak sadar dengan apa yang biasa kita lakukan. Yaitu gaya hidup yang konsumtif yang bisa mendorong terjadinya pemanasan global lebih cepat. Seperti degradasi perubahan cuaca yang tak menentu adalah tiada lain disebakan oleh gaya hidup yang salah tersebut. Kondisi ini mengharuskan kita untuk lebih bijak lagi dalam memilih segala sesuatu yang kita butuhkan, demi terciptanya kualitas lingkungan yang lebih baik.

Konsep dapur hijau merupakan salah satu perubahan yang bisa kita lakukan. Dengan sedikit kekreatifan dan biaya yang tidak telalu mahal kita bisa menciptakan suatu siklus hijau di rumah kita. Konsep yang telah jadi pesona di beberapa negara Eropa ini mengutamakan secara minimalis material yang digunakan, dengan lebih menghadirkan aktor-aktor alam. Seperti pemanfaatan secara maksimal sinar matahari serta penggunaan material kayu dan batu-batuan. Penggunaan ruang yang efektif juga mencegah terhadap penggunaan material yang boros, sehingga terhindarlah kita terhadap penggunaan sumber daya alam yang berlebih. Konsep ini akan menyajikan suasana betah di dapur ketika kita beraktifitas.

Seperti Dewi, lulusan muda Perguruan Tinggi Negeri di Bandung ini menjadikan memasak sebagai hobi barunya. Menu dari mulai yang tradisional sampai yang paling mutakhir dia jelajahi di dapur miliknya yang berkonsepkan hijau. Pengaturan sirkulasi udara dibuat lebih terbuka. Dengan sekat-sekatnya memberikan jalan keluar bagi asap dan bau-bau makanan tak sedap. Dewi pun tak akan merasa pengap. Jendela diletakkan pada posisi yang pas. Tepat pada arah datangya sinar matahari sehingga bisa menghemat penggunaan lampu. Untuk lebih mendukung lagi, sebagian langit-langit dibiarkan terbuka berbataskan kaca. Maka ketika malam hari sinar langit dan terangnya bulan bisa termanfaatkan. Juga akan terasa lebih romantis laksana memasak di alam terbuka. Kini dapur miliknya laksana studio bagi Dewi, tempat dimana kreatifitas dalam mengolah makanan bermunculan. Dan menjadi kamar keduanya, karena dia sangat betah berlama-lama di sini.

Perangkat dapur pun dipilih dari bahan-bahan yang ramah lingkungan. Baik dari material maupun sentuhan akhir. Seperti kitchen set dan meja utama dibuat dari kayu alami tanpa cat, hanya cukup dilapisi pengawet. Polusi dalam ruangan pun tak akan tercipta. Permukaan meja yang biasa dipakai mengiris, terhampar marmer bermotif sehingga tak diperlukan alas lagi ketika memotong-motong sayur atau daging. Dewi pun tahu asal dari bahan-bahan tersebut. Proses produksi dilakukan oleh industri-industri kecil di sekitar rumahnya dengan teknik alami dan kovensional. Bahan-bahan yang digunakan didapatkan bukan dari hasil eksploitasi sumber daya alam ilegal karena bahannya bersertifikat. Selain itu, perempuan energik ini bisa melihat langsung proses pengerjaannya. Karenanya Dewi jadi sangat yakin bahwa perabotan yang dipakai di rumahnya ramah lingkungan. Dan juga, selain telah mensejahterakan sentra perekonomian lokal, Dewi juga telah menciptakan jarak yang pendek dari pendistribusian hasil produksi. Sehingga bahan bakar yang terpakai ketika proses pengangkutan-pun tak akan terlalu banyak.

Bagaimana dengan pengelolaan limbah rumah tangga? Tentunya ada pemilahan, antara yang organik, anorganik, kertas, kaleng, plastik, kaca dan lain-lain. Tempat sampah disimpan di rak bawah kitchen set yang tertutup sehingga tidak akan ada pemandangan sampah yang berserakan. Untuk memasukkan sampah dibuatlah lubang di permukaan meja, praktis sampah pun tinggal dimasukkan ke situ. Yang organik dikomposkan di belakang rumah dengan metode Takakura –metode ini akan dibahas menyusul di seri Dewi si penghijau berikutnya– yang murah dan ergonomis serta tidak berbau. Sementara sampah kertas, plastik, kaca, dan kaleng selanjutnya diberikan kepada para pemulung sehingga bisa memberikan sumber penghasilan bagi mereka setelah dijual ke pengumpul untuk di daur ulang.

Untuk keperluan mencuci piring-piring kotor dan alat masak Dewi tak perlu menggunakan air yang yang biasa digunakan untuk minum. Dia memanfaatkan air simpanan ketika hujan turun. Air itu disalurkan melalui pipa-pipa dari atap rumahnya yang ditampung pada suatu tanki besar. Air hasil tabungan ini juga bisa digunakan untuk menyiram tanaman di halaman rumahnya atau membersihkan lantai. Air bersih dari keran digunakan seefektif mungkin hanya untuk keperluan minum dan memasak.

 

Di dapur dengan kebutuhan utama untuk memasak dan menciptakan suasana yang segar terhadap makanan, konsep dapur hijau bisa mendukung terhadap pengunaan biaya yang lebih hemat. Keuntungan lain, penggunaan material yang lebih ramah lingkungan bisa mengurangi dampak dari polusi di dalam ruangan karena penggunaan zat-zat kimia yang terkandung dari perabotan-perabotan rumah tangga sintetis. Konsep dapur hijau bisa memberikan keuntungan terhadap pengunaan secara bijak sumber daya alam, hemat energi serta tampilan menarik yang akan membuat kita lebih nyaman ketika beraktifitas.

Yang cantik dan elegan tak harus selalu mahal. Itu bisa diciptakan secara minimalis dan efektif. Dapur adalah ruangan yang sering dipakai dibandingkan ruangan lainnya di rumah. Lewat pengemasan yang baik dan bijak, satu tempat dengan perubahan yang kecil, bisa berdampak pada perbedaan yang besar dalam pemanfaatan sumber daya alam.-ery bukhorie

Tags: , ,

2 Tanggapan ke “Menciptakan siklus berkelanjutan dengan konsep dapur hijau”

  1. mirchelp Berkata

    “sangat bagus untuk literatur seorang desain pemula…terima kasih ya…saya tunggu lagi artikel desain yang lain….”

  2. ery bukhorie Berkata

    thx.,


Tinggalkan Balasan