“…saya akan lebih memilih hidup di Malaysia.” Kalimat itu keluar tanpa kompromi. Tulus dan jujur. Sangat ironis memang.,
Mangkau, Kamis dini hari 01.00 AM. Hingar bingar suara yang keluar dari kotak 300 watt masih terdengar gaduh. Katrina (18) setengah sadar. Perempuan bermata sipit ini tampak mabuk. Gelegar tawa bersahutan keluar dari mulutnya disertai aroma alkohol yang menyengat. Walau langkahnya sedikit gontai, gadis keturunan Dayak ini tak berhenti menggerakkan badannya. Mengikuti alunan musik yang telah diputar berulang. Mengalun keras semenjak malam menjelang.
Berisik, sangat berisik. Belum lagi ditambah derung suara mesin jenset sebagai aktor penghasil energi. Tapi tak masalah bagi Katrina dan semua orang yang tampak setengah sadar saat itu. Karena fermentasi pulung –beras ketan– dicampur ragi bernama Arak, telah membuat tubuhnya berteman baik dengan suara hangar bingar tersebut. Kadang diselingi dengan santapan kecil kuah babi yang dihidangkan pada mangkuk-mangkuk kecil.






