“…saya akan lebih memilih hidup di Malaysia.” Kalimat itu keluar tanpa kompromi. Tulus dan jujur. Sangat ironis memang.,
Mangkau, Kamis dini hari 01.00 AM. Hingar bingar suara yang keluar dari kotak 300 watt masih terdengar gaduh. Katrina (18) setengah sadar. Perempuan bermata sipit ini tampak mabuk. Gelegar tawa bersahutan keluar dari mulutnya disertai aroma alkohol yang menyengat. Walau langkahnya sedikit gontai, gadis keturunan Dayak ini tak berhenti menggerakkan badannya. Mengikuti alunan musik yang telah diputar berulang. Mengalun keras semenjak malam menjelang.
Berisik, sangat berisik. Belum lagi ditambah derung suara mesin jenset sebagai aktor penghasil energi. Tapi tak masalah bagi Katrina dan semua orang yang tampak setengah sadar saat itu. Karena fermentasi pulung –beras ketan– dicampur ragi bernama Arak, telah membuat tubuhnya berteman baik dengan suara hangar bingar tersebut. Kadang diselingi dengan santapan kecil kuah babi yang dihidangkan pada mangkuk-mangkuk kecil.
Mereka terhanyut pada suatu pesta kemenangan. Gawai, sebuah tradisi adat di Dusun Mengkau, Kabupaten Sanggau, Kecamatan Sekayam, Kalimantan Barat. Gawai diperingati sebagai simbol kesukacitaan. Awalnya dilakukan sehabis diraihnya kemenangan dalam peperangan. Sampai akhirnya terus berkembang dan akulturasi budaya pun tak dapat dihindari. Terutama karena pengaruh kebudayaan modern orang-orang Malaysia, yang hanya terhalang satu bukit di sini.
Lewat akulturasi lantas terciptalah pluralisme. Bukan kemenangan perang yang mereka rayakan. Karena budaya pun dapat berubah sesuai jaman. Pesta yang mereka lakukan hanya semi ritual biasa atas nama kesenangan. Kesenangan seperti apa yang mereka lihat pada wajah orang-orang Melayu di negara tetangga.
Dengan taraf hidup dan kesejahteraan yang sangat jauh berbeda.
Ada suatu keironian dalam pesta yang konon merupakan tradisi yang telah dilakukan turun temurun ini. Dimana euphoria “Kucing Garong” telah menginvasi mengalahkan musik Dayak, musik yang merupakan hasil kreasi leluhur mereka. Atau sound system, lengkap dengan perangkat vcd player-nya yang telah menggantikan senandung perempuan-perempuan Dayak. Pun, orang-orang di sini tampak nyaman dengan itu. Sangat ironis.
Disko, begitu mereka menyebutnya. Sebuah nama yang sangat sarat dengan campur tangan budaya Barat. Menggoyangkan kaki dan tangan dalam satu irama, dengan ritme yang sama dan berulang. Diiringi lagu-lagu populer yang telah dimodifikasi. Mungkin karena pengaruh arus informasi dari teknologi. Tapi itu juga tak bisa disalahkan, karena masyarakat di sini pun menginginkan kehidupan yang lebih maju. Seperti apa yang mereka lihat di kota-kota perbatasan di Malaysia.
Melestarikan budaya akan tergantung dari apresiasi serta perhatian pemerintah sebagai inisiator. Lewat lembaga yang sudah dibentuk khusus. Jika terus tak serius, maka pluralisme akan berakar lebih kuat. Maka tumbuhlah kebudayan baru, yang surut akan nilai-nilai yang filosofis. Karena tercipta lewat spontinitas, tanpa arti dan makna yang dirumuskan.
Atau menyimak tentang kesejahteraan di perbatasan. Ada kesenjangan sosial yang sangat antara masyarakat kita dengan mereka yang hidup di negara tetangga. Walaupun hidup dalam kontur alam yang tak jauh beda, tapi dengan gaya hidup yang sangat klise. Ketika masyarakat di Mangkau harus rela turun ke sungai demi mendapatkan beberapa ekor ikan untuk sajian makan malam –dengan harus berbasah-basah diri dan tombak di tangan– di Tupoy –kota di perabatasan Malaysia-Indonesia– masyarakatnya hanya tinggal menggesek kartu kredit dan masuk ke toko waralaba. Ikan segar pun akan mudah tersaji di meja.
Sebenarnya tak muluk-muluk. Saat ini masyarakat di dusun Mangkau hanya menginginkan akses jalan darat yang bisa memudahannya ketika hendak Entikong. Dan mungkin diharapkan juga oleh semua dusun di sepanjang sungai Sekayam ini. Menuju ke peradaban yang lebih mutakhir. Untuk memasarkan hasil ladang ketika musim panen tiba. Sehingga mereka tak perlu mengeluarkan uang 160 ribu untuk sekedar biaya angkut menggunakan perahu. Mengingat hasil panen yang tak seberapa.
Atau mereka menginginkan adanya sekolah yang layak dan guru yang memadai, serta jaminan akan lapangan pekerjaan. Sehingga bisa membuka harapan dan memompa semangat bagi anak-anak di sini untuk sekolah setinggi-tingginya. Juga, mereka ingin adanya kunjungan yang lebih sering puskesmas keliling ke dusunnya sehingga tak ada lagi kasus anak-anak yang kena penyakit cacing atau kekurangan gizi.
Mereka mendambakan kehidupan yang lebih nyaman seperti apa yang mereka lihat pada desa-desa di perbatasan Malaysia. Mereka memimpikan memiliki rumah serta sarana umum yang memadai. Atau hak atas segala informasi tentang segala sesuatu yang terjadi di penjuru dunia ini. Kini, ketika masyarakat Mangkau sedang dipusingkan oleh kemarau yang berkepanjangan –mengingat sudah semakin menipisnya persediaan beras untuk makan– masyarakat di daerah perbatasan Malaysia dengan nyamannya sedang menonton reality show atau infotainment di televisi kabel sambil duduk pada sofa yang empuk ditemani popcorn di tangan. Bagaimana saudara-saudara kita di perbatasan tak iri melihat kondisi ini.
Untuk menggapai itu, sampai kemudian muncullah ide untuk menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di Malaysia. Atau populer dengan istilah pahlawan devisa. Hal yang selalu jadi primadona setiap waktu di kita. Jadi primadona karena masalahnya yang tak pernah kunjung usai. Dan itu wajar terjadi, mengingat buruknya pengelolaan serta pengawasan oleh lembaga pemerintah yang berwenang. Atau lebih tepatnya pemerintah kurang serius dalam menanggapi hal ini. Hingga memasuki babak baru. Yaitu munculnya kasus-kasus penyiksaan terhadap TKW, penjualan gadis di bawah umur –untuk kepentingan ‘industri’ prostitusi– atau cerita TKW yang loncat dari apartemen berlantai tiga puluh karena tak tahan disiksa majikannya.
Mereka adalah korban dari kurangnya perhatian pemerintah. Padahal hanya satu yang jadi harapan yang tertanam di benak para pahlawan devisa tersebut, mendapatkan kesejahtraan dalam hidup. Demi keluarganya, demi sanak saudaranya. Tapi mimpi buruk yang mereka dapatkan. Dan tak sedikit mereka yang kambali ke kampung halaman hanya berupa raga tanpa jiwa, dengan sambutan tetesan air mata dari kerabat terdekat. Terjadi sebuah keironisan lagi di sini.
Atau menyoal nasionalisme yang tampak mati suri di sini. Tak ada penghargaan terhadap para veteran yang dulu ikut membela negara ketika dulu jaman konfrontasi Indonesia-Malaysia. Dusun Mangkau merupakan benteng terakhir pertahanan Indonesia saat itu. Keringat darah yang dulu para veteran cucurkan, dibayar dengan perhatian yang nol besar. Hal yang juga terjadi pada semua veteran perang di negeri kita tercinta ini. Tak jarang mereka harus hidup pas-pasan tanpa menyisakan sedikitpun harapan di hati.
Bukan rasa simpatik yang mereka harapkan, tapi upaya nyata sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa. Dan sepertinya hanya sedikit kebanggaan yang mereka tanamkan, terhadap negara yang mereka bela secara habis-habisan dulu. Negara yang membuat nasib mereka seperti sekarang.
Seperti yang dialami Djafun (65). Veteran perang ini dipaksa harus terus menguras keringat untuk mengolah tanaman di ladang, demi bisa bertahan pada sisa hidupnya. Sisa hidup yang seharusnya dia habiskan dengan bersantai dan lebih menikmati hidup sebelum ajal tiba. Dia berucap bahwa dulu dia ikut berjuang di benteng terakhir ini. Menjadi tentara rakyat berjuang bersama pasukan Siliwangi yang sengaja saat itu didatangkan dari Jawa Barat. Menurutnya, gelegar bunyi bom yang berjatuhan kadang jadi pemandangan mencekam setiap senja datang. Terus berulang dalam tempo yang cukup lama. Sampai meluluh-lantahkan semua yang ada di dusun ini. Rumah panjang sebagai simbol peradaban suku Dayak dulu, pun hancur tak bersisa di sini. Begitupun isinya yang ikut terbakar.
Laki-laku tua berkulit gelap ini harus pasrah terhadap kecekaman yang masih jadi bayang-bayang dalam dirinya. Tapi kecekaman yang berbeda. Kecekaman akan kehidupannya yang pas-pasan. Sisa tanaga yang ada harus dia paksakan keluar untuk menggarap ladang. Dengan hasil yang tidak seberapa, yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Kalaupun sebagian dijual untuk sedikit mendapatkan rupiah, tapi dijual kemana. Mengingat akses darat yang tidak ada untuk ke pasar terdekat di Entikong. Menggunakan perahu malah rugi yang didapat. Sehingga tak aneh jika masyarakat di Mangkau lebih memilih menjual hasil panennya ke Tupoy, Malaysia. Dengan perjalanan hanya dua jam dengan berjalan kaki. Tak perlu ada biaya yang keluar, hanya dibutuhkan energi yang lebih lagi.
Tapi, akan ada ringgit yang mereka dapatkan lebih. Lebih banyak dibandingkan rupiah yang kadang hanya jadi harapan. Seperti seikat kacang yang dihargai dua kali lipat jika dijual di Tupoy. Sehingga di sini, harapan yang mereka miliki bisa sedikit memberikan titik cerah. Sampai akhirnya membunuh rasa nasionalisme yang tertanam dalam hati.
Pernah saya bertanya kepada Djafun tentang pilihan antara hidup di Indonesia dan Malaysia. Dengan spontan laki-laki tua ini menjawab “Pasti saya akan lebih memilih hidup di Malaysia.” Kalimat itu keluar tanpa kompromi. Tulus dan jujur. Sangat ironis memang.,
Tags: nasionalisme, perbatasan indonesia - malaysia, pluralisme, tkw






