Ketika isu perubahan iklim menjadi ”trend” baru di dunia lingkungan, warta seputar hidupan liar Indonesia seakan dilupakan. Padahal keberadaannya sangat terkait dengan keberlangsungan hutan, yang juga faktor penting dalam pemulihan iklim global.
Apa kabar? suatu kalimat sapaan yang biasa digunakan untuk menanyakan sesuatu. Tentang kabar/berita/warta. Biasanya terlontar setelah tak lama berjumpa. Dan ya, apa kabar owa Jawa? Ketika isu perubahan iklim menjadi ”trend” baru di dunia lingkungan, warta primata endemik Jawa ini seakan terlupakan. Memang, di tengah menipisnya cadangan minyak dunia serta merajalelanya industri yang berdampak pada meningkatnya suhu udara di permukaan bumi, isu perubahan iklim seakan menjadi hangat. Sehangat dampak yang ditimbulkannya.
Padahal, ketika isu itu ramai dibicarakan, owa Jawa yang terlupakan, populasinya kian hari semakin berkurang. Habitat tersisa yang ditinggali, tiap detik terus berkurang dan terus menggusur kelompok-kelompok yang tersisa. Kondisi yang juga terjadi hampir kepada semua hidupan liar di Indonesia. Ini penting, begitupun semua isu tentang lingkungan, sangat penting untuk diperhatikan. Jadi, harus ada porsi yang berimbang, karena satu sama lain saling berkaitan. Seperti sebuah siklus yang akan terputus jika hanya satu mata rantai yang dijaga.
Fragmentasi dan konversi habitat merupakan masalah utama yang dihadapi oleh owa Jawa. Sama halnya dengan apa yang dihadapai oleh hampir semua hidupan liar di Indonesia. Setiap detik populasinya kian terancam. Perlindungan hutan sebagai habitat serta sumber makanan merupakan salah satu cara agar primata ini tidak masuk ke jurang degradasi kepunahan.
Seperti apa yang terjadi di Cagar Alam Leuweung Sancang (CALS), Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Kawasan dengan luas 2.157 ha ini, kini hanya tersisa sekitar dua puluh persen saja areal yang berupa hutan. Konversi habitat, perladangan, perburuan dan penambangan merupakan beberapa masalah utama yang menjadi ancaman di sini. Hal ini menjadikan hutan Sancang yang dulu dikenal dengan keangkerannya kini seakan tak bertuah. Hutan sebagai sumber makanan bagi para primata serta satwa-satwa lainnya lambat laun terus berkurang. Bahkan kerusakan yang telah berlangsung lebih dari tiga puluh tahun ini telah memusnahkan keperkasaan Banteng yang kini hanya tinggal cerita di Sancang.
Hal yang sama juga sangat mungkin terjadi pada owa Jawa. Luasan hutan yang tersisa di CALS saat ini tidak cukup untuk menopang kehidupan populasi owa yang ada. Owa Jawa, yang merupakan salah satu primata penghuni CALS selain monyet ekor panjang, lutung, surili dan kukang.
Dari data terakhir penelitian Nicholas Malone, peneliti dari Biological Anthropology Universitas Oregon, Amerika Serikat, bersama Konservasi Alam Nusantara (Konus) awal Januari lalu, owa Jawa di CALS hanya tersisa empat kelompok. Dengan perkiraan jumlah keseluruhan sekitar dua belas ekor. Mereka terkonsentrasi di Blok Bantar Limus dan Cipalawah, di sepanjang sungai Cipangisikan ——sungai yang debit airnya masih normal dibandingkan sungai-sungai yang lain. Penelitian ini dilakukan secara simultan oleh Konus mulai dari tahun 2002.
Data penelitian sebelumnya yang dilakukan Erri Megantara, populasi owa Jawa masih berjumlah 32 ekor (Megantara, 1992). Berarti selama kurun waktu lima belas tahun, kepunahan lebih dominan terjadi dibandingkan penambahan populasi. Hal ini mengharuskan segera diadakannya upaya restorasi. Walaupun hasil yang akan didapatkan dari upaya ini tidak akan sama dengan kondisi semula ——dibutuhkan waktu yang sangat lama serta komitmen dari semua pihak. Sebuah agenda panjang mengingat kondisi sosial politik di Indonesia— tapi setidaknya restorasi yang dilakukan segera bisa menyelamatkan owa Jawa agar nasibnya tidak sama dengan banteng atau harimau Jawa. Karena jika perusakan terus berlangsung, lambat laun Jawa Barat akan kehilangan hutan dan pesisir yang telah jadi kabanggaan dari sejak dulu, walaupun saat ini proses menuju ke situ sedang berlangsung.
Sejarah Panjang Kerusakan Habitat
Fragmentasi dan konversi habitat merupakan masalah utama yang dihadapi oleh hampir semua habitat satwa di Indonesia. Hal yang juga secara khusus telah menghancurkan spesies primata di Indonesia. The Primate Specialist Group dari Badan Konservasi Dunia (IUCN) telah menetapkan dua spesies, yaitu Orangutan Sumatera (Pongo pygmaeus) dan Owa Jawa (Hylobates moloch), sebagai spesies yang menduduki peringkat tertinggi pada daftar dua puluh lima primata yang terancam punah.
Menurut data dari Biro Pusat Statistik, sebagai sebuah pulau yang memiliki luas sekitar 130.000 km2, pertumbuhan manusia yang pesat di Jawa telah menjadikan pulau ini penuh sesak selama dua ratus tahun terakhir. Sebelum kemerdekaan Indonesia, pemerintahan Belanda pernah mencoba untuk merelokasi beberapa populasi manusia ke pulau-pulau lain, untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan. Angka pertumbuhan penduduk mulai tumbuh pesat pada abad 19 sampai abad 20. Dalam empat puluh tahun dari 1961 sampai 2001, pertumbuhan di pulau terpadat di Indonesia ini hampir dua kali lipat. Dari 63 juta sampai 115 juta.
Perkembangan populasi manusia ini, serta sejarah panjang dari pertanian, seribu tahun yang lalu secara signifikan telah mengurangi luasan hutan di Jawa. Whitten et al. 1996 memperkirakan, dalam kurun waktu tersebut adanya kehilangan lebih dari satu setengah juta hektar tanah pertanian dan lahan tanaman berkayu/hutan. Sebagian besar hutan-hutan alami yang tersisa sekarang berada di daerah-daerah yang telah dilindungi secara khusus, seperti Taman Nasional dan sejenisnya.
Pulau Jawa kembali kehilangan hutannya ——signifikan terjadi setelah adanya kebijakan tentang pengelolaan hutan yang terdesentralisasi di tingkat daerah.
Departemen Kehutanan, 2001, menyatakan bahwa lima tahun selepas diterapkannya kebijakan ini ——dari data hasil pencitraan satelit— selama sepuluh tahun, mulai dari 1985 sampai 1997, telah terjadi pengurangan luasan yang sangat besar. Beberapa meliputi area yang dilindungi. Hutan di Cagar Alam Gunung Simpang Tilu pada masa itu berkurang hampir lima belas persen dari luasan 15.000 ha. Taman Nasional Ujung Kulon kehilangan empat persen dari luasan 76.100 ha. Taman Nasional Gunung Halimun kehilangan dua setengah persen dari luas 42.000 ha
Penyebaran Owa Jawa
Keterangan tentang penyebaran populasi owa di pulau Jawa pertama keluar dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Kappeler, pada tahun 1984. Dia mengidentifikasi adanya dua puluh lima populasi owa Jawa di beberapa hutan sepanjang Jawa bagian barat sampai ke tengah. Asquith pada tahun 1995 melanjutkan survei yang dilakukan Kappeler dengan identifikasi lebih lanjut di daerah Jawa bagian barat, mendekat ke arah Gunung Simpang. Dia memperkirakan di Jawa bagian barat dan tengah terdapat tidak lebih dari 3.000 ekor owa.
Sampai kemudian Vincent Nijman, memperkirakan jumlah keseluruhan owa liar di Jawa diperkirakan sekitar 4.100 sampai 4.500 ekor. Itu tersebar di 29 hutan di Jawa Barat. Peneliti dari Zoological Museum, Universitas Amsterdam ini menyatakan itu pada tahun 2004, hasil dari penelitian panjang yang telah dia lakukan dari tahun 1994 sampai 2002. Menurut keterangan dari data yang dia keluarkan, jumlah itu merupakan angka yang kecil jika dibandingkan dengan laju kerusakan hutan yang terjadi. Mengikuti survei yang dilakukan Nijman, pada tahun 2004, Djanubudiman memperkirakan estimasi owa antara 2.600 sampai 5.304 ekor.
Populasi terbesar terdapat di Taman Nasional Gunung Halimun, Gunung Simpang, Dieng dan Ujung Kulon. Tapi sampai saat ini hanya di Gunung Halimun serta Ujung Kulon saja yang memiliki pengelolaan serta fasilitas yang baik. Gunung Simpang merupakan cadangan alam yang sempurna dimana sebagian besar kondisinya masih alami dan terjaga dengan baik.
Menurut Siswoyo, petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar I yang biasa berpatroli di wilayah Gunung Simpang, daerah ini dibagi ke dalam tiga wilayah besar. Yaitu Gambung, Mandala, dan Pangalengan. Menurutnya, wilayah Mandala merupakan daerah yang terdapat owa paling banyak. Siswoyo juga menambahkan, di wilayah ini pernah diperkirakan ada sekitar dua belas jalur yang menjadi habitat owa.
Perlu Habitat Yang Memadai
Dalam penelitian terbaru mengenai owa Jawa, Luthfiralda Sjahfirdi dari Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia menyatakan bahwa, diduga karakter stres pada primata ini menjadi salah satu penyebab rendahnya peningkatan populasi. Faktor lainnya yang juga menjadi penyebab dari turunnya populasi adalah rendahnya tingkat kesuksesan perkembangbiakan serta kurangnya pemahaman atas perilaku reproduksi dan biologis owa Jawa.
Owa Jawa menjalani siklus ovari (kesuburan) antara 29 hingga 38 hari. Selain itu, pada masa subur owa Jawa yang berpasangan menunjukkan intensitas perilaku pergerakan, memanggil, menelisik, dan makan yang lebih tinggi dibanding masa tidak subur. Owa betina juga menunjukkan perilaku lebih aktif pada masa suburnya dibanding masa tidak subur.
Berdasarkan faktor-faktor di atas, ketersediaan hutan yang memadai serta terlindungi sudah merupakan hal yang mutlak untuk menjaga populasi owa Jawa dari kepunahan. Hutan yang berfungsi sebagai habitat atau tempat hidup juga sumber makanan bagi kelangsungan hidup. Owa Jawa mengkonsumsi lebih kurang 125 jenis tumbuhan yang berbeda, meliputi 61 persen buah-buahan, 38 persen daun-daunan dan sisanya berbagai jenis bunga dan serangga.
Primata ini hidup diantara pohon (arboreal), jarang turun ke tanah. Pergerakannya dari pohon yang satu ke pohon yang lain dengan bergelayutan (brankiasi). Idealnya dibutuhkan areal sekitar 16 sampai 17 ha untuk satu kelompok mengingat daya jelajahnya yang bisa mencapai 1.500 meter dalam sehari.
Kondisi habitat yang tidak mencukupi bisa menciptakan tingginya persaingan antar kelompok dalam mendapatkan makanan. Maka hukum rimba pun akan berlaku di sini. Yang kuat akan bertahan lebih lama, sampai akhirnya akan punah juga jika degradasi habitat terus berlangsung.-ery bukhorie
Tags: fragmentasi habitat, kerusakan hutan jawa barat, konversi habitat, owa jawa, primata






