Arsip untuk Januari, 2008

Insiden Mati Lampu di Senayan

Januari 23, 2008

mati-lampu.jpg

“Lampu Stadion Senayan di tribun Barat tiba-tiba mati! Begitupun dengan pinguin-pinguin di kutub utara. Mereka mati karena semakin menyusutnya tempat tinggal mereka.”

Saat itu ritme permainan sedang dalam klimaks. Para pemain Korea Selatan terus berupaya agar bisa kembali memimpin. Mereka terhenyak setelah kapten Yasser Al Qahtani berhasil mematahkan kebuntuan Arab Saudi lewat gol tunggalnya dari titik putih. Skor pun sementara imbang, 1-1. Striker Korea Selatan penuh eksentrik, Lee Chun Soo, coba terus menusuk dari sayap kiri. Arab Saudi tak mau kalah. Lewat manuver-manuver serangan baliknya mereka memanfaatkan bola-bola atas. Jurus-jurus seperti sundulan maut sampai tendangan salto sesekali mereka peragakan. Pertandingan sepertinya akan berjalan normal hingga menit pertandingan menunjuk angka 84. Sampai kemudian tiba-tiba lampu Stadion Senayan di tribun Barat mati! Dan parahnya lagi masalah tersebut tidak bisa cepat diatasi. Baru setelah 25 menit lampu kembali bisa dinyalakan. Komentarpun dikeluarkan kubu Korea Selatan. “Gangguan ini sangat menganggu ritme permainan dan konsentrasi pemain ketika mencoba unggul kembali” demikian ucap Pim Verbeek, arsitek kesebelasan negeri ginseng ini. Dia kemudian hanya bisa menggelengkan kepala tanda kecewa.

Pertandingan pun memasuki babak baru. Yaitu semakin tercorengnya Indonesia di kancah dunia. Mengingat ini merupakan pertandingan berskala internasional plus disiarkan langsung bukah hanya ke negara-negara Asia, tapi jutaan manusia di Eropa pun melihatnya. Ada yang menarik dari insiden “mati lampu” ini. Ketua panpel lokal Jakarta, Nugraha Besoes, mengatakan bahwa padamnya lampu stadion tersebut karena turunnya tegangan listrik, dampak dari pemakaian yang sangat tinggi (Pikiran Rakyat, 12/7). Listrik drop karena terjadi overload. Dunia persepakbolaan Indonesia tercoreng di kancah dunia lewat insiden ini. Tapi itu hanya karena masalah teknis, masih bisa dengan segera dipulihkan. Tapi, ada dampak lain yang lebih mencengangkan dari pemakaian listrik yang sangat tinggi ini. Adalah pemanasan global yang akhir-akhir ini jadi sensasi dimana-mana.

Baca entri selengkapnya »

Food Miles – makan di Bandung angkut dari Eropa

Januari 23, 2008

food-miles.jpg

“Ketika kita asyik menikmati dahsyatnya chicken cordon bleu atau tenderloin steak dan beef schnitzel, secara tak sadar kita sedang mencairkan puncak-puncak es di kutub utara serta menenggelamkan pulau-pulau kecil di sekitarnya …”

Di jagat konsumsi sekarang, seperti ada suatu kebanggan tatkala kita menyantap produk-produk makanan Eropa sana. Karena kini, menyebutkan makan berarti berbicara tentang gaya hidup. Makan bukan hanya sekedar aktifitas mengisi perut saja, apa yang kita makan dan dimana itu menjadi hal yang penting. Apalagi jika hinggap di tempat-tempat ekslusif yang terkesan seperti milik orang-orang berkantong tebal. Sebutlah restoran-restoran mewah atau tempat makan sekelas fine dinning dan resto. Lebih bergengsi katanya. Disaat hasrat bercampur nafsu menyantap apa yang kita makan, tak pernah sedikitpun terpikir darimana makanan tersebut berasal. Yang penting selera kita terpenuhi dan perut kita dibuat kenyang karenanya. Mungkin itu falsafah yang kita anut saat itu.

Atau snack serta buah-buahan impor yang katanya lebih higienis. Menurut mereka para penganut ‘produk-produk interlokal’ ini, mencicipinya berarti kita akan dicap sebagai masyarakat yang modern. Bisa menggangkat derajat hidup kita –sebut prestise– di mata masyarakat. Atau malah semakin meneggelamkan produk-produk lokal yang membuat para petani kita semakin dekat ke jurang kemiskinan.

Baca entri selengkapnya »