“Ketika kita asyik menikmati dahsyatnya chicken cordon bleu atau tenderloin steak dan beef schnitzel, secara tak sadar kita sedang mencairkan puncak-puncak es di kutub utara serta menenggelamkan pulau-pulau kecil di sekitarnya …”
Di jagat konsumsi sekarang, seperti ada suatu kebanggan tatkala kita menyantap produk-produk makanan Eropa sana. Karena kini, menyebutkan makan berarti berbicara tentang gaya hidup. Makan bukan hanya sekedar aktifitas mengisi perut saja, apa yang kita makan dan dimana itu menjadi hal yang penting. Apalagi jika hinggap di tempat-tempat ekslusif yang terkesan seperti milik orang-orang berkantong tebal. Sebutlah restoran-restoran mewah atau tempat makan sekelas fine dinning dan resto. Lebih bergengsi katanya. Disaat hasrat bercampur nafsu menyantap apa yang kita makan, tak pernah sedikitpun terpikir darimana makanan tersebut berasal. Yang penting selera kita terpenuhi dan perut kita dibuat kenyang karenanya. Mungkin itu falsafah yang kita anut saat itu.
Atau snack serta buah-buahan impor yang katanya lebih higienis. Menurut mereka para penganut ‘produk-produk interlokal’ ini, mencicipinya berarti kita akan dicap sebagai masyarakat yang modern. Bisa menggangkat derajat hidup kita –sebut prestise– di mata masyarakat. Atau malah semakin meneggelamkan produk-produk lokal yang membuat para petani kita semakin dekat ke jurang kemiskinan.
Sebut saja Sopian (40), untuk ukuran petani lokal, dulu dia termasuk petani yang lumayan sukses. Usaha sayuran di Lembang yang dia rintis bersama para petani di daerahnya, setiap hari bisa memasok ratusan kilogram wortel, kentang, dan tanaman-tanaman musiman segar lainnya ke beberapa hotel dan restoran di Bandung. Tempat seperti pasar tradisional sampai yang berlabel “supermarket” pun sempat dijajal oleh Sopian. Lewat usahanya yang dirintis semenjak lulus kuliah ini, dia bisa bisa menggairahkan iklim pertanian di daerahnya dengan terbukanya lapangan perkerjaan bagi para petani setempat.
Tapi lain dulu lain sekarang, lain ladang lain belalang. Usaha Sopian sekarang seperti hidup enggan matipun tak mau. Semenjak pasar Eropa masuk ke Indonesia, atau era yang katanya pemerataan –baca globalisasi– permintaan pasar atas sayur-sayuran yang dia produksi menurun drastis. Sopian kalah bersaing hanya karena modal yang kurang kuat serta kekuasaan. Seperti David and Goliath, dia harus bersaing dengan industri berlabelkan koorporasi internasional. Padahal sayuran yang dia produksi tak kalah kualitasnya dengan produk Eropa sana.
Lain cerita dengan Ferdy (21), seorang mahasiswa tingkat dua di sebuah perguruan tingggi swasta di Bandung. Laki-laki yang selalu kelihatan stylist dan up to date ini menuturkan sangat sering makan di beberapa restoran cepat saji di Bandung. Atau sekedar nongkrong di kafe bersama teman-temannya. Dia mengaku sangat tergila-gila dengan produk-produk makanan Eropa dari sejak SMP dulu. Baik itu yang berupa makanan berat atau makanan dalam kemasan. Ferdy beralasan bahwa mengkonsumsi makanan berlabel Eropa lebih sehat katanya, walaupun dia akui juga bahwa itu juga bisa mengangkat gengsi. Apalagi jika bahan-bahan yang digunakan sebagian asli dari sana, yang tidak didapatkan di Indonesia. Memang sedikit mahal katanya, tapi sepertinya tidak terlalu masalah untuk Ferdy yang tampak keren dengan mobil sedannya, penuh dengan variasi di dashboard.
Atau tengok keluarga-keluarga kecil yang selalu membawa anak-anaknya makan di restoran cepat saji. Kebiasaan ini bisa membuat si anak ketagihan, terus dan terus. Apalagi dengan supporter iklan-iklan di televisi dan segala bentuk promosi mutakhir yang memberondong bak muntahan peluru. Tak lupa bonus-bonus menarik sebagai senjata pamungkas, yang bisa membuat si anak semakin kerajingan untuk datang dan datang lagi. Para orangtua tak sadar bahwa perlahan mereka telah menggiring anaknya ke jurang obesitas juga pergaulan modern yang sarat dengan bahaya. Akibatnya, ketika anak dihadapkan dengan makanan tradisional seperti ciu, katimus atau awug mereka seakan bingung dan bertanya-tanya makanan apa ini?
Penambahan gas-gas rumah kaca
Suatu waktu, secara tak sengaja saya melihat satu program acara di televisi bercerita tentang seorang perempuan yang berwisata kuliner. Perempuan cantik yang tampak anggun dengan scarf cokelat di leher ini ceritanya sedang makan siang di sebuah restoran tradisional dan sederhana di sebuah dusun kecil di pedesaan bernama Burgundy, Perancis. Di sela-sela menikmati apa yang dia cicipi, lantas dia berucap “terlepas dari semua makanan enak di sini, hal yang terpenting adalah saya tahu asal dari semua makanan yang saya santap ini” ucapnya sambil menyantap dengan khidmat sajian di hadapannya.
Beef bourguignon’ itulah apa yang dia santap. Dikenal sebagai resep makanan tradisional Perancis, ini adalah sejenis potongan daging sapi yang dikukus dengan beberapa jenis sayuran seperti wortel dan jamur. Dimasak secara perlahan dengan bumbu bawang putih dengan sengatan aromanya yang menggelitik hidung, serta tambahan bawang merah dan lemak babi. Masyarakat Burgundy biasa menyajikan makanan ini bersama anggur merah dan disantap secara berjamaah. Ada petani yang pulang dari ladang, para pegawai kantoran yang sengaja datang di waktu makan siangnya serta ibu yang mampir setelah menjemput anaknya dari sekolah. Yang setia adalah para pria usia lanjut. Mereka kadang seharian menghabiskan waktunya di tempat ini hanya sekedar untuk bercengkrama sambil makan siang dengan sesama kerabatnya.
Tradisi menyantap beef bourguignon’ di negeri berlambangkan ayam jago ini telah berlangsung secara turun-temurun. Mereka sangat menjaga tradisi ini karena tingginya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Dari mulai nilai sosial, keberlanjutan serta kekayaan akan sumber daya alam lokal yang mereka miliki. Oleh karenanya bahan-bahan makanan yang mereka olah sebagian besar berasal dari lahan pertanian yang mereka kelola sendiri. Uniknya, di sini para pengunjung restoran bisa melihat secara langsung proses pengolahan makanan dari mulai pengambilan bahan makanan dari sumbernya langsung sampai makanan tersebut diolah dan disajikan di hadapan mereka. Sebagian besar hasil pertanian disini dipasarkan paling jauh ke pusat kota yang letaknya tidak terlalu jauh dan dikonsumsi oleh masyarakat sekitar. Tradisi yang mereka miliki telah menciptakan jarak yang efektif dalam pendistribusian makanan serta sanjungan yang tinggi terhadap keberlanjutan.
Food miles, sebuah kata yang sangat asing di telinga kita. Adalah sebuah konsep tentang dampak yang ditimbulkan dari makanan yang kita makan, yaitu dilihat dari jarak pengangkutannya atau sejauh mana jarak itu diciptakan. Dari mulai sumbernya sampai dikonsumsi dan masuk ke mulut kita. Ada beragam akibat dari hal ini, mulai dari masalah pengagahan terhadap perekonomian lokal, pemusnahan nilai-nilai sosial masyarakat sampai kontribusinya secara tidak langsung terhadap percepatan terjadinya pemanasan global. Konsep ini bisa menjadi indikator untuk melihat dampak lingkungan dari proses pendistribusian dan produksi makanan serta komponen-komponen yang terkandung di dalamnya.
Logika sederhana kontribusi food miles terhadap lingkungan, terkandung pengertian dimana semakin jauh sumber makanan tersebut berasal –atau semakin panjang jarak yang diciptakan– berarti akan semakin banyak menghabiskan bahan bakar dalam transportasinya. Pengangkutan biasanya melibatkan truk-truk besar dengan bahan bakar solar-nya yang akan menyumbang terhadap diciptakannya gas-gas rumah kaca di atmosfer. Apalagi jika jarak pengangkutan sudah dalam luasan lintas negara atau lintas benua. Berapa banyak avtur –sebutan untuk bahan bakar pesawat– yang akan terpakai, mengingat pesawat merupakan trasportasi yang cepat menghabiskan banyak energi ketika bergerak. Dan yang paling penting, adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan serta gas-gas emisi rumah kaca yang dihasilkan. Atau berapa banyak makanan yang akan terbuang percuma dari persentase kegagalan yang timbul karena pengemasan yang kurang baik selama proses pengangkutan.
Dan coba jumlahkan itu semua. Total pengiriman makanan dalam jarak yang jauh, setiap hari, yang dilakukan secara serentak oleh semua eksportir makanan di seluruh dunia baik lewat darat, laut ataupun udara. Akan timbul angka yang mencengangkan terhadap jumlah gas-gas rumah kaca yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar selama pengiriman makanan. Telah kita ketahui bersama gas-gas rumah kaca adalah aktor utama dari terjadinya pemanasan global, yang dalam jangka panjang akan membuat naiknya permukaan air laut sehingga akan menenggelamkan daratan terutama pulau-pulau kecil. Tak hanya itu, proses produksi serta pengolahan makanan juga bisa berkontribusi menambah gas-gas rumah kaca. Seperti penggunaan pestisida dan fertilizer. Tapi ini sangat jauh jika dibandingkan dengan kontribusi dari pembakaran bahan bakar fosil.
Seperti yang terjadi di Inggris. Hasil penelitian menyatakan, masyarakatnya bisa menghabiskan sembilan miliar dalam setahun untuk biaya bahan bakar dalam keperluan pengangkutan makanan, baik yang dilakukan oleh industri maupun masyarakat biasa.
Rata-rata masyarakat Inggris berkendaraan kurang lebih 898 mil dalam setahun untuk berpergian ke toko makanan. Pada tahun 2002, transportasi makanan di Inggris telah menghasilkan sembilan belas juta ton karbondioksida –salah satu gas rumah kaca– dimana sepuluh juta dihasilkan dari transportasi dalam negeri dan sisanya merupakan hasil dari lalu-lintas makanan impor. Perubahan dari kebiasaan belanja yang pada awalnya cukup dengan mengunjungi toko terdekat dengan berjalan kaki, yang beralih menjadi ke supermarket dengan jarak yang cukup jauh dengan menggunakan mobil merupakan faktor yang diyakini menjadi penyebab yang cukup dominan.
Ancaman kesehatan, peruntuhan ekonomi lokal dan disinteraksi sosial
Dengan jarak pengangkutan yang jauh tentunya akan mengurangi kesegaran serta penurunan kualitas makanan. Maka diaturlah sedemikian rupa agar makanan bisa tahan lama dan tetap menarik selama dipasarkan, yaitu dengan penggunaan bahan pengawet serta zat-zat aditif. Di dunia industri besar berlabelkan koorporasi pengunaan kedua unsur ini sudah menjadi hal yang wajib. Padahal konsumsi secara berlebihan terhadap bahan pengawet dan zat-zat aditif dalam jangka panjang akan sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Penyakit-penyakit seperti kanker, paru-paru serta gangguan pada alat pencernaan dan jantung akan mengerogoti tubuh secara perlahan. Apalagi jika bahan pengawet yang digunakan termasuk pada jenis yang sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi. Tapi apa peduli mereka para pelaku industri koorporasi. Yang ada dalam pikiran mereka hanya terus meraih keuntungan sebesar-besarnya, dengan cara apapun walaupun akan ada pihak yang dirugikan.
Dan adakah makanan dalam kemasan yang tanpa bahan pengawet di era peradaban yang katanya modern ini? Rasa-rasanya pertanyaan tersebut terdengar aneh. Betapa tidak, nyaris semua makanan di supermarket menggunakan bahan pengawet. Kadang kita tidak sadar bahwa ketika kita mengkonsumsi itu, berarti kita sedang memasang bom waktu di tubuh. Padahal sangat banyak produk-produk penganan lokal sebagai alternatif makanan sehat yang lebih berkualitas. Mereka para produsen lokal tersisihkan hanya karena jepitan hegemoni kekuatan kapital, bagai raksasa dengan tangan besarnya yang memegang bola dunia.
Seperti laporan dari Brebes baru-baru ini yang menyatakan bahwa kehadiran bawang impor telah menimbulkan kepanikan bagi pedagang dan petani, yang berakibat pada anjloknya harga bawang lokal. Bawang merah merupakan komoditi penting di daerah ini. Pada tahun 2006 lalu, 53 persen pendapatan daerahnya berasal dari sektor pertanian. Dari angka tersebut, lebih dari 50 persennya berasal dari pertanian bawang merah. Oleh karena itu, anjloknya harga bawang merah telah menimbulkan keterpurukan bagi sebagian besar petani di Brebes. Seharusnya pemerintah sebagai pihak yang mempunyai wewenang mengatur hal ini melakukan pengetatan terhadap impor komoditi tersebut. Pengetatan dilakukan dengan menata kembali mekanisme impor bawang merah, terutama terkait dengan waktu pelaksanaan impor, jumlah barang yang diimpor, dan alokasi wilayah distribusi bawang merah impor.
Food miles juga berdampak kepada kehidupan sosial masyarakat. Penemuan terakhir mengatakan, konsep ini tidak hanya membicarakan seberapa jauh makanan tersebut berjalan, tetapi bagaimana makanan tersebut disampaikan. Yaitu keuntungan ketika masyarakat mengkonsumsi makanan lokal –biasa disebut dengan slow food, konsep lain sebagai lawan dari food miles– Hal ini menjadi pertimbangan yang sangat penting. Para ahli sosial meyakini konsep ini sebagai suatu usaha untuk meningkatkan interaksi dengan masyarakat sekitar, selain pencegahan terhadap penambahan gas-gas rumah kaca tentunya.
Hubungan sosial terjadi ketika proses jual beli dilakukan, yaitu ketika produsen atau penjual memberikan pelayanan langsung kepada para pembeli. Interaksi semacam inilah yang penting dalam membentuk dan memelihara sebuah komunitas yang berkembang. Inisiatif untuk mengkonsumsi makanan lokal membantu suatu masyarakat –ketika masyarakat membeli bahan makanan dari petani lokal– menjalin sebuah hubungan sosial serta menahan keuangan stabil pada komunitas lokal. Dengan demikian, komunitas para petani memiliki sebuah benteng pasar tersendiri.
Beralih ke bahan dan makanan lokal
Banyaknya masyarakat yang mengkonsumsi makanan berkemasan, baik impor maupun dalam skala antar daerah –yang jelas menciptakan jarak yang jauh dalam pengangkutan– merupakan akibat dari kurangnya informasi tentang konsep food miles ini. Mereka secara tak sadar telah termakan dampak dari promosi iklan yang sporadis dan sangat gencar, baik di televisi, koran maupun media-media lainnya. Ataupun karena besarnya keterlibatan para pemodal besar –baca kapital– yang semakin memarjinalkan para pengusaha kecil sehingga menciptakan persaingan yang tidak sehat. Berarti masalahnya bukan dari kualitas makanan lokal yang kalah bersaing, toh dengan mengkonsumsi produk impor pun belum bisa menjamin bahwa itu aman.
Seperti apa yang terjadi di Dumai, Riau. Pemerintah setempat menolak di pelabuhan terhadap masuknya buah-buahan dan sayuran impor untuk menghindari meluasnya hama lalat yang kini telah menjangkiti beberapa negara di luar negeri. Hama lalat tersebut dikatakan cepat menular pada tanaman hortikultura dan dapat memicu penurunan drastis produktifitas. Wabah lalat buah ini memiliki 31 spesies berbeda yang kini banyak menyerang jenis tanaman hortikultura di beberapa negara di luar negeri penghasil buah, seperti Amerika Serikat, Thailand, dan China. Di Riau, produk buah impor menguasai 40 persen ketersediaan buah di pasaran. Buah impor rata-rata didatangkan melalui importir asal Pekanbaru dan Medan, Sumatera Utara.
Jika ceritanya ingin tetap menggangkat gengsi, untuk menghadirkan beberapa hidangan Eropa tidak harus mendatangkan bahannya dari sana. Bahan-bahannya bisa diproduksi di negeri kita sendiri. Seperti sayuran selada untuk salad. Sebutlah lettuce romain, lettuce baby romain, lettuce red coral, dan green oak yang yang dikenal sebagai bahan-bahan impor kini sudah bisa dihasilkan di negeri sendiri. Keempat jenis sayuran yang biasa digunakan untuk bahan ”salad” ini ditanam di daerah pedesaan Sukabumi, tepatnya di perbatasan dengan Kabupaten Bogor. Harga sayuran hidroponik ini termasuk lumayan. Setiap kilogramnya mencapai sekitar Rp. 35.000, bisa untuk mensejahterakan para petani lokal. Memang, benihnya masih berasal dari Belanda dan Australia, tapi jika pemerintah kita memang serius untuk mengembangkannya, itu bisa dicari solusinya. Masalahnya hanya tinggal mau atau tidak, jangan hanya dijadikan usulan proyek saja dan berakhir pada wacana di siang bolong.
Lebih mengembangkan pertanian organik adalah solusi lain. Teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis ini bisa menciptakan bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya. Konsep ini mencegah terjadinya residu pada sayur atau buah-buahan dengan mengurangi menggunakan pestisida berbahan kimia tinggi. Dan yang paling penting tidak merusak lingkungan. Produk organik bisa memenuhi penerapan gaya hidup sehat. Yang bisa memberi jaminan bahwa produk pertanian aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes) sesuai yang telah disyaratkan lembaga makanan internasional.
Disamping penerapan metode yang lebih ramah terhadap lingkungan, juga bisa memperpendek jarak pengangkutan. Sesuai sifatnya yang tidak tahan lama –karena tanpa bahan pengawet dan tetap menjaga kesegaran– produk ini bisa dijadikan alternatif untuk dikonsumsi masyarakat lokal. Yang pasti produk organik bisa memperkecil biaya produksi, baik dari sisi pemrosesan dan biaya angkut. Dan tentunya bisa mengangkat perekonomian petani lokal.
Dengan pertimbangan tingginya konsentrasi gas rumah kaca yang dibuang kendaraan selama pengangkutan, dukungan terhadap makanan lokal menjadi salah satu solusi untuk mereduksi emisi gas rumah kaca tersebut. Konsep ini sendiri merupakan bagian dari isu yang lebih besar, yaitu keberlanjutan (sustainability), dimana berkaitan erat dengan berbagai isu. Konsumsi terhadap makanan lokal akan menciptakan suatu siklus yang menguntungkan. Baik bagi lingkungan, kehidupan sosial, maupun perekonomian lokal.-ery bukhorie
Tags: food miles, makanan impor, makanan organik, pemanasan global, perubahan iklim






