“Lampu Stadion Senayan di tribun Barat tiba-tiba mati! Begitupun dengan pinguin-pinguin di kutub utara. Mereka mati karena semakin menyusutnya tempat tinggal mereka.”
Saat itu ritme permainan sedang dalam klimaks. Para pemain Korea Selatan terus berupaya agar bisa kembali memimpin. Mereka terhenyak setelah kapten Yasser Al Qahtani berhasil mematahkan kebuntuan Arab Saudi lewat gol tunggalnya dari titik putih. Skor pun sementara imbang, 1-1. Striker Korea Selatan penuh eksentrik, Lee Chun Soo, coba terus menusuk dari sayap kiri. Arab Saudi tak mau kalah. Lewat manuver-manuver serangan baliknya mereka memanfaatkan bola-bola atas. Jurus-jurus seperti sundulan maut sampai tendangan salto sesekali mereka peragakan. Pertandingan sepertinya akan berjalan normal hingga menit pertandingan menunjuk angka 84. Sampai kemudian tiba-tiba lampu Stadion Senayan di tribun Barat mati! Dan parahnya lagi masalah tersebut tidak bisa cepat diatasi. Baru setelah 25 menit lampu kembali bisa dinyalakan. Komentarpun dikeluarkan kubu Korea Selatan. “Gangguan ini sangat menganggu ritme permainan dan konsentrasi pemain ketika mencoba unggul kembali” demikian ucap Pim Verbeek, arsitek kesebelasan negeri ginseng ini. Dia kemudian hanya bisa menggelengkan kepala tanda kecewa.
Pertandingan pun memasuki babak baru. Yaitu semakin tercorengnya Indonesia di kancah dunia. Mengingat ini merupakan pertandingan berskala internasional plus disiarkan langsung bukah hanya ke negara-negara Asia, tapi jutaan manusia di Eropa pun melihatnya. Ada yang menarik dari insiden “mati lampu” ini. Ketua panpel lokal Jakarta, Nugraha Besoes, mengatakan bahwa padamnya lampu stadion tersebut karena turunnya tegangan listrik, dampak dari pemakaian yang sangat tinggi (Pikiran Rakyat, 12/7). Listrik drop karena terjadi overload. Dunia persepakbolaan Indonesia tercoreng di kancah dunia lewat insiden ini. Tapi itu hanya karena masalah teknis, masih bisa dengan segera dipulihkan. Tapi, ada dampak lain yang lebih mencengangkan dari pemakaian listrik yang sangat tinggi ini. Adalah pemanasan global yang akhir-akhir ini jadi sensasi dimana-mana.
Energi listrik yang kita gunakan bisa membuat bumi menjadi panas? Pertanyaan itu kadang terlontar begitu saja. Itu keluar dengan segala keluguan dan ketidaktahuan yang alami. Memang, tampaknya sebagian dari masyarakat kita kurang begitu paham bahwa listrik yang mereka pakai dihasilkan dari pembakaran minyak atau bahkan batubara –wacana yang juga sekarang lagi trend, bahkan beberapa sudah teraplikasikan–. Itu bisa tergambarkan dari pemakaian listrik yang boros sebagai ‘bagian’ dari gaya hidup masyarakat yang konsumtif. Televisi tanpa pemirsa yang dibiarkan hidup sepanjang hari –walaupun ditonton, acara yang ada sebagian besar tak mendidik– atau pemakaiaan air conditioner (AC) dengan pengaturan temperature yang tinggi yang sebenarnya masih bisa nyaman jika diatur pada kisaran normal. Masyarakat seakan-akan tidak menyadari bahwa ketika mereka sedang asyik menonton sinetron seharian, dengan lampu yang terus menyala di ruang tengah dan AC yang dengan setianya menemani sepanjang hari, mereka sedang mencairkan puncak-puncak es di kutub utara dan menenggelamkan pulau-pulau di sekitarnya.
Menurut apa yang disampaikan oleh Yayasan Pelangi Indonesia, untuk menahan laju perubahan iklim, perlu segera melakukan usaha-usaha mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) hasil aktifitas manusia. Ini bisa dilakukan dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batubara, dan gas. Dua cara yang bisa dilakukan adalah dengan beralih ke bahan bakar yang memiliki emisi yang lebih rendah seperti penggunaan gas dan energi dari sumber terbarukan. Atau melakukan program efisiensi energi. Ini efektif dilakukan di sektor industri dan pembangkit listrik. Kedua sektor ini termasuk penghasil emisi GRK utama di Indonesia, dan memiliki konsumsi energi per kapita yang tinggi.
Memang, salah satu masalah terbesar yang dihadapi oleh negara-negara di dunia termasuk Indonesia adalah masalah energi. Oleh karenanya persoalan energi merupakan persoalan global. Menurut Internasional Energy Agency (IEA), saat ini kebutuhan energi setiap harinya di seluruh dunia mencapai empat belas terawatt –satu terawatt kurang lebih sama dengan seribu watt– atau empat belas triliun watt. Jumlah ini setara dengan dua ratus juta lebih barel minyak. Total konsumsi energi tersebut diprediksikan akan mengalami peningkatan menjadi sebesar enampuluh terawatt untuk memenuhi permintaan energi dari total penduduk dunia yang mencapai delapan miliar jiwa. Dibandingkan dengan industri di bidang lainnya, industri energi di seluruh dunia memiliki perputaran yang lebih besar dengan total mencapai tiga triliun dollar AS per tahunnya. Kondisi inilah yang membuat energi mendapatkan sebutan sebagai “the biggest enterprise on the planet.”
Pada kenyataannya, permintaan yang terus meningkat terhadap energi tidak dibarengi dengan peningkatan jumlah pasokan minyak bumi yang saat ini menjadi penyuplai terbesar kebutuhan energi dunia. Bahkan, semakin terbatasnya ladang-ladang minyak di dunia membuat harga minyak terus meroket. Kondisi inilah yang membuat negara di dunia berpacu tentang penghematan energi dan pemanfaatan teknologi dengan menciptakan energi alternatif terbarukan yang mampu mengatasi permasalahan energi di dunia.
Beralih menggunakan sumber energi terbarukan bisa mengurangi emisi GRK dalam jumlah yang lebih besar. Dan dengan semakin tingginya harga minyak bumi, sumber energi terbarukan menjadi pilihan yang semakin menarik. Saat ini biodiesel menjadi alternatif yang perlu dipertimbangkang dengan serius. Penggunaan biodiesel yang sekarang mulai berkembang untuk bahan bakar transportasi tipe B10 (10% biodiesel, 90% diesel) juga bisa digunakan sebagai bahan bakar industri yang bisa mengurangi emisi GRK tanpa perlu modifikasi peralatan. Atau metode lain yang mutakhir dengan melakukan program efisiensi energi. Ini efektif dilakukan dan akan berdampak positif bagi lingkungan jika diterapkan oleh industri dan pembangkit listrik. Kedua bidang ini termasuk penghasil emisi GRK utama di Indonesia, dan memiliki konsumsi energi per kapita yang tinggi.
Selain itu, masih sangat banyak sumber-sumber energi terbarukan lainnya di sekitar kita yang belum termanfaatkan secara maksimal. Ketika di Indonesia masih berupa wacana dan buah bibir dimana-mana, di beberapa negara maju inovasi ini telah lama berkembang. Seperti pemanfaatan tenaga angin dengan kincir-kincir raksasanya –bahkan di Amerika sana, negara sebagai penghasil GRK paling besar dunia, telah dibuat kincir angin yang baling-balingnya seukuran sayap pesawat Garuda– Teknologi ini telah ramai dikembangkan sebagai salah satu jawaban dari minyak bumi yang menuju kepunahan. Atau sinar matahari, masih di negara yang sama, sekarang ini banyak terlihat pemandangan dimana lempengan-lempengan solar cell terhampar rapih di gurun-gurun pasir bak serdadu yang berbaris dan hendak berperang. Walaupun ternyata diantara dua inovasi ini masih menyimpan kekurangan, yaitu kontroversi dari penggunaan batere yang berfungsi sebagai penyimpan energi.
Tapi sebegitu progresifnya Amerika dalam mengembangkan energi alternatif terbarukan ini, itu tampak sis-sia. Karena sampai saat ini negara gudangnya limbah tak ramah lingkungan ini masih belum patuh pada apa yang disepakati dalam Protokol Kyoto. Yaitu kesepakatan bersama negara-negara industri untuk sama-sama mengurangi produksi emisi GRK. Bahkan pada pertemuan G8 belum lama ini, Amerika membuat pernyataan baru bahwa mereka mau patuh pada apa yang disepakati pada Protokol Kyoto asalkan China dan India juga diikut sertakan. Lucu memang, Amerika seperti seorang anak kecil yang tak mau tersaingi. Belum lagi tingkahnya yang sok jadi ‘polisi dunia’ di negara-negara Arab dengan dalih mengamankan kestabilan negara. Padahal itu hanya propaganda mereka dalam mencari akal karena ketergantungannya yang tinggi terhadap minyak bumi.
Solusi-solusi bagi dampak perubahan iklim, terutama bagi Indonesia yang rentan terhadap dampak-dampkanya, perlu mulai mendapat perhatian yang lebih serius. Beberapa solusi yang bisa kita lakukan adalah mengurangi emisi dari berbagai aktifitas kita serta menyiapkan strategi adaptasi terhadap perubahan yang sudah mulai terjadi. Karena jika berbicara mengenai dampak, kondisinya sudah sangat jelas. Seperti perubahan musim yang semakin tak menentu. Dan berbicara tentang dampak paling buruk, coba liat kembali film keluaran Holywood berjudul “The Day After Tommorow.” Di film itu digambarkan patung Liberty yang tenggelam terendam air bah karena mencairnya gunung-gunung es di benua Antartika. Dan juga New York yang terkubur air dengan semua gedung-gedung pencakar langitnya dan manjelma menjadi sebuah negeri bawah air.-ery bukhorie
Tags: gas rumah kaca, global warming, mati lampu







Juli 24, 2008 pada 7:01 pm
Terasa Bete !!!!
Bosan !!!
Pokoknya !!@@##
Aaargrr….
Tak bisa di ungkapkan dengan kata2
Yang di karenakan kejadian mati lampu
Don’t worry mungkin lagu nih bisa temenin kamu buat hilangin bete.
So download aja di
http://www.ziddu.com/download/1696804/MatiLampu.mp3.html
atau
http://www.myspace.com/mixerband
Jangan lupa kasih comment ya
saran dan kritik dari kamu
sangat berarti buat kami
salam kenal aja
tq
mix3rband@yahoo.com