Seonggok cerita. Dengan ragam alur yang menghiasi. Penuh akan berjuta corak dan warna. Tak lupa untaian motif cerah maupun kelabu. Dalam satu bingkai di suatu ruang. Yang kini mulai ditumbuhi sarang laba-laba serta dikerumuni burung-burung pemakan bangkai yang siap dengan manuver tajamnya. Tak jauh terdengar senandung gagak hitam diantara sayatan sinar bulan yang muram.
Cerita itu bergelora. Yang cerah, tentunya berhiaskan bunga dengan canda, tawa dan kasih sayang dengan muatan perasaan yang sangat. Bergejolak tapi menyejukkan. Seperti tetesan embun pada daun yang jatuh di kelopaknya yang basah di pagi hari. Seperti menyantap perkedel jagung dibarengi saus dan emping dengan jus alpukat yang ditaburi cokelat di permukaannya. Sangat indah, seperti merasakan orgasme bathin ketika menuliskan kata terakhir tatkala membereskan suatu artikel.
Tapi, dalam ruang cerita ini ada juga yang kelabu. Yang sebenarnya enggan untuk diceritakan. Mengingatnya seperti dihadapkan pada keterpurukkan. Seperti melabuhkan kenangan dengan jangkar yang penuh karat. Seperti dihadapkan pada langit jingga yang harus kita arungi walaupun dengan sayap yang tinggal sebelah. Seperti merindukan amarah ketika itu tak kunjung datang.,
Ongokkan cerita itu kini sedang coba untuk kubunuh. Walaupun dengan muntahan ingatan yang tak henti-hentinya datang setiap saat. Yang tiba-tiba datang ketika rehat sejenak dari aktifitas. Dalam lamunan yang seringkali datang secara tak sadar. Yang juga datang setiap tengah malam menjelang dengan acak. Ya, ada romantisme ketika aku terhipnotis pada ingatan itu. Diiringi dengupan hati yang sangat keras serta badan yang sedikit menggigil karena coba menahan agar air mata tidak keluar. Ketika itu aku rasakan, seperti ada bayangan yang hendak membawa pergi sukmaku. Seperti mencoba memberiku kerinduan akan kematian.
Gerimis mengundang peran. Pagi menjelang diantara kerinduan yang sia-sia. Dan semuanya tetap anonim!






