Menggunakan angkutan umum seperti sebuah keterpaksaan ketika belum mampu untuk mengambil kreditan motor.,
Di jagat konsumsi sekarang, sistem kredit bak jadi primadona di masyarakat. Dengan desakan kebutuhan hidup, itu seakan-akan jadi sebuah solusi praktis. Seperti kebutuhan masyarakat akan angkutan umum. Karena jaminan akan keselamatan, keterjangkauan, dan kenyamanan tak kunjung didapatkan, akhirnya mencicil sepeda motor baru menjadi sebuah pilihan ——bahkan terasa seperti sebuah trend sekarang— Dengan hanya bermodalkan uang tiga ratus ribu rupiah sudah cukup untuk terbebas dari teguran atasan karena telat datang ke tempat kerja. Satu masalah terselesaikan tapi muncul masalah-masalah baru.
Kemacetan dan kenaikan tingkat polusi udara adalah beberapa diantaranya. Atau mungkin kecemburuan sosial dari para pelaku bisnis angkutan umum merupakan masalah baru lainnya. Jika iya, aksi pemogokan angkutan umum yang terjadi di Bandung Rabu (27/03) kemarin merupakan klimaksnya.
Memang, kian hari angkutan umum kian kurang diminati. Seiring dengan pengelolaan sistem angkutan perkotaan kita yang kian semrawut, masyarakat kini lebih memilih kendaraan pribadi. Tentunya, juga karena adanya sistem cicilan motor tadi, dengan semua perangkat promosinya yang gencar dimana-mana.
Harus kita akui bersama bahwa kita belum memiliki sistem angkutan umum yang baik saat ini. Baik dari segi kelayakan atau pertanggung jawaban dari segi waktu, kenyamanan dan keselamatan. Dengan jumlah penduduk yang terus mengalami peningkatan, harusnya masalah sistem transportasi ini sudah benar-benar jadi perhatian serius.
Penerapan Sistem Angkutan Umum Massal (SAUM) yang lebih baik dan terencana merupakan salah satu solusi jitu. Sistem angkutan ini efektif bagi tulang punggung transportasi perkotaan ketika jalan tidak mampu mengakomodasi pergerakan. Dengan sistem ini akan tercipta suatu keefektifan waktu, kenyamanan, keselamatan dan keamanan.
Jika sudah tercipta, masyarakat pun akan cenderung memilih berkendaraan umum sehingga peredaran jumlah kendaraan bermotor akan berkurang, kemacetan akan terhindari, polusi udara akan terkurangi dan terciptalah kualitas lingkungan yang lebih baik.
Belajar dari India
Mengenai masalah transportasi ini, kita tidak harus jauh-jauh studi banding ke negara-negara di Eropa, tengok India sekarang. Negara dengan penduduk terbesar kedua di dunia setelah Cina ini telah berhasil mengembangkan suatu sistem transportasi massa yang telah diterapkan hampir di semua kota besarnya. Salah satunya New Delhi. Kota di India yang dulu disebut-sebut sebagai kota terpolutif di dunia, sekarang udaranya relatif lebih bersih.
Perubahan ini terjadi salah satunya karena pengoperasian angkutan massal berbasis rel yang sebagian besar melintas di bawah tanah (subway). Kini warga New Delhi lebih suka menggunakan jaringan kereta yang disebut Metro untuk berpergian ke kantor, sekolah, berekreasi atau berbelanja. Kebijakan pemerintah yang “memaksa” semua kendaraan umum menggunakan bahan bakar jenis compressed natural gas juga memberi sumbangan besar pada kebersihan udara di New Delhi. Didukung dengan taman luas dan pepohonan hijau yang hampir terdapat di seluruh pelosok kota.
Metro yang beroperasi di New Delhi ini setiap jamnya mampu mengangkut 80.000 penumpang atau setara dengan 10.000 bus. Metro Delhi di India kini sudah terbangun tiga jalur berbeda di permukaan tanah, jalur layang dan bawah tanah. Keberhasilan New Delhi membangun jaringan Metro tersebut juga diikuti kota-kota lain di India. New Delhi sendiri masih terus mengembangkan jaringan Metro dari tiga jalur yang ada sekarang menjadi delapan jalur pada tahun 2021.
Yang menjadi pertanyaan sekarang, darimana India yang sempat dicap sebagai negara miskin ini mendapatkan dana untuk membangun semua infrastruktur di atas. Adalah kesungguhan dari pemerintah pusat dan pemerintah kota yang bersama-sama mendanai pembangunan mega proyek tersebut. Pembangunan dilakukan secara bertahap mengingat besarnya dana yang diperlukan. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai konsistensi dan keterbukaan serta dengan titik tujuan akhir yang jelas, proyek pun berjalan dengan lancar dengan dukungan penuh dari masyarakatnya
Kenapa tidak dikerjakan dan dikelola oleh swasta seperti apa yang sering dilakukan oleh negara kita setiap melakukan pembangunan? Anuj Dayal, Kepala Humas Delhi Metro Trail Corporation Limited (DMRC), seperti dilansir harian KOMPAS menuturkan bahwa pembangunan Metro tidak mungkin diswastakan mengingat biaya yang dibutuhkan sangat tinggi. Kalau swasta yang mengelola maka tarif angkutan akan menjadi sangat mahal dan masyarakat pun akan susah untuk mengakasesnya.
DMRC sendiri adalah sebuah perusahaan yang dimiliki Pemerintah Kota New Delhi sebagai operator Delhi Metro yang berkewajiban untuk merawat jalur dan memelihara/menambah kereta. DMRC mengambil keuntungan dari tiket yang dijual. Walaupun dengan tarif murah, tapi mereka tetap untung. DMRC juga berkewajiban mengembalikan investasi pembangunan dan sebagian keuntungan didapatkan dari subsidi terhadap bahan bakar yang dikurangi .
Yang sangat menarik, ketika Dayal memberikan jawaban setelah ditanya apa sebenarnya yang didaapat pemerintah India dengan membangun Metro yang sangat mahal. Dayal berkata bahwa keuntungan bisa didapat dari kompensasi atas menurunnya pencemaran udara sampai 30 persen, pengurangan subsidi bahan bakar 110 juta dollar AS per tahun, menurunkan tingkat kecelakaan sampai 30 persen, menghemat waktu perjalanan, peningkatan produktivitas serta perbaikan kualitas hidup masyarakat.-ery bukhorie
Tags: angkutan kota, bbm naik, kreditan motor, sistem angkutan umum massal, sistem transportasi





