Saat itu motor yang saya tunggangi memasuki sebuah rumah di Jl. Cimandiri 16 disambut dengan kicauan burung-burung kota. Asri, sederhana dan berkarakter itulah kesan pertama yang saya tangkap. Kesan yang juga saya rasakan ketika pertama kali bertemu dengan sosok yang saya kagumi ini empat tahun lalu. Saat itu ada acara birdwatching di taman kota Ganesha. Masih sangat pagi, dan sosok bapak ini muncul dengan dandanan yang sangat sederhana. Jaket putih dipadankan dengan celana pendek dan sepatu kets biasa serta kaos kaki hitam. Beliau pergi dari rumahnya sendirian dengan berjalan kaki. Sangat terlihat kesederhanaannya pagi itu, dari seorang figur besar yang sangat dihormati banyak orang. Kesan pertama saya dapatkan.
Tak lama setelah itu, saya dihadapkan pada kesempatan baik lainnya. Hadir pada suatu persentasi kecil, dan bapak ini sebagai pembicaranya. Semua orang yang hadir duduk lesehan, pun termasuk pembicara. Seorang panitia menawarkan bapak ini bantal duduk, dengan maksud agar duduknya lebih nyaman, tapi dengan sopan beliau menolaknya. ”Tidak usah terima kasih, yang lain pun tidak menggunakan itu” demikian ucapnya saat itu. Menakjubkan pikir saya. Kesan kedua kembali saya dapatkan.
Ketika beliau menyampaikan persentasinya, sangat mudah dicerna dengan bahasa yang membumi. Diskusi pun terasa hidup. Apa yang disampaikannya sangat berbeda dengan apa yang biasa dipaparkan oleh Doktor atau Profesor lainnya. Yang selalu ramai dengan diksi serta artikulasi yang rumit sehingga melahirkan ambigu bagi yang mencermatinya.
Sejatinya pemaparan konsep lingkungan harus mudah dipahami, biar ketika khalayak luas melihatnya bisa memberikan arahan terhadap hal kongkrit apa yang bisa dilakukan. Dari apa yang dipaparkan bapak ini, saya rasakan itu. Apa yang disampaikannya mengandung banyak pencerahan dan solusi yang kongkrit. Itu selalu tercermin dari tiap persentasinya maupun buku dan tulisan-tulisan yang telah diterbitkannya. Kesan ketiga saya dapatkan.
Lama berselang setelah itu, saya dapat kesempatan sangat baik. Diskusi empat mata dengan beliau di rumahnya. Perbincangan pertama, bapak ini bertanya saat itu “Naik apa kesini?” lantas saya jawab “Sepeda motor pak Otto” lalu kemudian dia berkata “Jika apa yang anda lakukan untuk membuat lingkungan lebih baik, mulailah dari diri sendiri. Seperti sekarang, anda akan lebih berperan jika misalnya membiasakan berjalan kaki.” Sampai diskusi terus berlanjut dengan semua pencerahan yang saya dapatkan. Satu yang saya tangkap dari diskusi di Jl. Cimandiri 16 pagi itu, bapak ini seorang suri tauladan. Kesan lainnya kembali saya dapatkan.
Ketika konferensi tentang perubahan iklim di Bali kemarin, seorang teman sempat bertemu beliau dan sedikit berbincang. Menurutnya, seperti apa yang disampaikan teman, ini bukan soal pemanasan global. Orang-orang tidak bertanggung jawab mencoba mengalihkan isu seolah-olah semua kekacauan yang terjadi memang karena perubahan iklim dan pemanasan global. Padahal, semuanya bisa diperbaiki dari lingkungan terkecil. Kesan –––yang entah keberapa– lainnya kembali saya dapatkan.
Lama kembali berselang sampai akhirnya saya mengunjungi kembali rumahnya Selasa (1/04) kemarin. Tapi kini dengan membawa rasa yang berbeda. Rasa yang penuh dengan haru dan duka cita. Bukan sahutan burung-burung kota yang menyambut saya kini. Tapi deretan bunga dan ucapan bela sungkawa yang penuh sepanjang jalan Cimandiri. Diiringi oleh wajah-wajah pelayat lainnya dengan mata berkaca-kaca. Dan sosoknya tak bisa saya temui kali ini. Saya hanya bisa menatap haru fotonya yang terpampang pada sebuah bingkai kayu dengan kalungan bunga.
Dalam hati saya berbisik. Sejarah akan mencatat ini. Hari ini telah pergi meninggalkan kita seorang bapak, figur, guru, pemikir, tokoh ekolog, pejuang lingkungan dan suri tauladan. Namanya akan selalu harum dan melekat dalam hati dan sanubari. Jasa-jasanya akan terekam terus oleh waktu sampai tiada akhir.
Saya sempat dapat informasi. Bahwa sebelum pemakaman pihak keluarga almarhum ditelepon Presiden SBY. Presiden menawarkan agar jasad almarhum untuk dimakamkan di makam pahlawan. Dengan segala kerendahan hati keluarga almarhum menolak itu. Jasad almarhum dimakamkan di pemakaman Sirnaraga, sebuah pemakaman biasa di Bandung. Kesederhanaan terus tercermin dari sosok Pak Otto, dari awal sampai akhir. Selamat jalan pak Otto Soemarwoto., -ery bukhorie
Tags: otto soemarwoto, pakar lingkungan





