kelam di jamtigapagi

Juli 29, 2008

Walaupun badanku berbaring penat, tapi sesungguhnya pikiran berlompatan seperti percik-percik listrik dalam sebuah korslet yang panjang. Lalu, bunga-bunga api itu semakin lama semakin tak beraturan. Bertubrukan satu sama lain dalam imaji-imaji yang aneh. Awan amat tipis, tetapi setitik hujan jatuh di alisnya yang mulai panjang. Dan aku baru sadar bahwa hujan yang menetes adalah air mata. Aku melihat sosok itu tersangkut di atasnya, kelopaknya basah seperti bunga di pagi hari.

Airmata terus mengalir ke arah rambut dan menghilang di dalam rambut. Seperti kepahitan dari tumpukan kekecewaan yang mencoba untuk disembunyikan. Seperti gairah-gairah yang dikekang. Seperti ketakutan yang tidak mau aku akui. Lantas, bagaimana aku mendamaikan serempak kenyataan yang saling bertentangan. Realita dari sesuatu yang kuimpikan dan yang ingin kutolak. Karena cinta bukanlah suatu hal yang direncanakan seperti perkawinan. Ia adalah karunia seperti semak yang muncul dan tumbuh di luar pagar.

Disaat kebekuan oleh kemelut hebat itu, yang membawa jiwa ini ke dalam rumangsa kekalahan, berakhirlah. Kini sebagai gantinya meletuplah ujungnya, melahirkan kesadaran baru dalam diri. Kini, apa yang hendak kukatakan merupakan sesuatu yang tersurat dari masa lampau ke masa datang. Apa yang ada sekarang dulu pun sudah ada, dan apa yang akan ada sebelumnya pun sudah ada. Hidup punya waktunya masing-masing.

Mimpi merupakan endapan bawah sadar yang terangkat untuk menjalin cerita dalam tidur. Begitu kuat rasa kehilangan dan cemas, sehingga dorongan pada ingatan merajut sebuah mimpi yang aneh. Dan cinta haruslah punya alasan untuk tumbuh, seperti benci yang juga tumbuh karena alasan tertentu. Kucoba mencari keindahan pada penderitaan, walaupun itu sulit.

Satu Tanggapan ke “kelam di jamtigapagi”

  1. Dadan Adriansyah Berkata

    magnificent. salam kenal…


Tinggalkan Balasan