Induk kera itu tiba-tiba datang sambil bermandikan darah. Diraihnya selember daun. Ia memerah air susunya yang ditampung ke daun itu, lalu diberikannya kepada seorang pelancong. Pelan-pelan ia melepas bayi dalam pelukannya. Tak lama akhirnya dia mati.
Kutipan cerita di atas terjadi di Alas Roban dua puluh tiga tahun yang lalu. Perburuan yang menewaskan seekor induk kera oleh terjangan timah panas. Itu dilakukan demi mendapatkan anaknya untuk dijual. Di beberapa daerah, aktifitas terlarang ini terkait dengan pesanan. Semakin tinggi pesanan, maka akan semakin banyak induk kera yang mati diburu.
Dua puluh tiga tahun berlalu. Moris, nama seekor owa Jawa di Desa Maroko, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, nasibnya tak jauh beda seperti kera di di Alas Roban. Ibunya tewas di tangan pemburu. Tapi Moris sedikit beruntung masih bisa bernafas, walaupun tubuhnya terikat rantai besi berkarat. Primata ini telah hampir dua tahun jadi peliharaan majikannya. Moris dibeli ketika berumur dua bulan, dari pemburu di pinggiran jalan Garut Selatan.
Sekarang Moris berumur dua tahun. Rantai besi berkarat yang melilit pada tubuhnya meninggalkan luka yang terus menggerus. Walaupun raut muka primata endemik Jawa ini tampak riang, sesungguhnya hatinya menangis. Duka akan kehilangan ibunya tercinta harus ditambah pupusnya harapan untuk hidup bebas di hutan, yang hanya dia rasakan dua bulan saja. Karena akhirnya Moris hanya akan menjadi satwa liar yang tak akan pernah bisa liar lagi.
Kisah sedih mendalam ini juga menghantui teman-teman Moris, lutung dan surili. Karena hutan, rumah mereka, terus mengecil serta perburuan yang tetap jadi ancaman. Kedua mimpi buruk ini akan membuat mereka dipaksa mengungsi, menuju kandang besi yang kecil di halaman-halaman rumah mewah di kota. Atau turun ke ladang atau kebun penduduk yang bukan merupakan suatu pilihan.
Berburu untuk rupiah
Cerita tentang perburuan terhadap primata seakan tidak pernah berhenti. Pada awalnya kebiasaan ini biasanya didorong oleh perilaku untuk memiliki satwa liar, hingga kemudian muncul nilai ekonomi yang menggiurkan. Para pelaku bisnis pun jadi berdatangan, menjadikan satwa sebagai komoditas industri. Semakin langka semakin banyak rupiah yang harus dikeluarkan. Akhirnya, demi sebuah prestise kepunahan jenis jadi korban.
Primata seperti sebuah primadona bagi para pemburu, karena dinilai sangat banyak peminatnya. Menurut beberapa keterangan, primata merupakan jenis satwa yang paling banyak diperdagangkan untuk satwa peliharaan setelah burung. Sebagian besar adalah hasil tangkapan dari alam. Selain dipelihara, di beberapa tempat primata ditangkap untuk dikonsumsi dagingnya. Yaitu atas kepercayaan, bahwa daging primata bisa untuk menyembuhkan penyakit. Namun, sampai saat ini tak ada bukti ilmiah yang membenarkan itu. Itu hanya dijadikan alasan oleh para pelaku bisnis haram ini, sebagai pembenaran atas apa yang mereka lakukan.
Di Jawa khususnya Jawa Barat, perburuan terhadap satwa liar tidak seramai seperti di Sumatera atau Kalimantan. Kalaupun ada, perburuan tidak terfokus pada satwa-satwa yang dilindungi. Ancaman terhadap satwa liar, lebih banyak datang dari aktifitas pembukaan lahan serta pembalakan liar. Tapi, walau bagaimanapun perburuan tetap menggoda jika dilihat dari nilai uang yang bisa didapatkan.
Seperti diakui Yadi, pemburu asal dusun Cipeuteuy, Desa Mekarbuana, Kecamatan Tegal Waru, Kabupaten Karawang. Dia mengaku bisa mendapatkan tiga ratus ribu untuk satu ekor babi hutan berukuran sedang. Jika harga sedang bagus, jumlah dua kali lipat bisa dia kantongi. Dalam seminggu, rata-rata empat ekor babi hutan berhasil Yadi buru. “Kadang juga tidak dapat sama sekali, tidak tentu,” ucap Yadi. Menurutnya, jumlah tersebut sudah cukup untuk membiayai istri dan satu orang anaknya. Tak heran ketika masuk ke rumahnya, terpampang televisi dua puluh inci lengkap beserta vcd player.
Memburu babi hutan pada awalnya dilakukan Yadi sebagai usaha untuk membasmi hama. Pada waktu itu mamalia berkaki empat ini sering merusak ladang penduduk, sampai kemudian muncul permintaan dari kota untuk pasokan rutin. Terjadilah transaksi yang melibatkan rupiah. “Yang pesan babi biasanya dari Karawang, penjual daging babi” ucap bapak beranak satu ini.
Sehari-hari, Yadi berburu di hutan Sanggabuana, Kabupaten Karawang, dengan mengikuti jejak dan senapan rakitan, tanpa bantuan anjing. “Hanya mengandalkan naluri,” ucapnya yakin.
Yadi menuturkan, dia sering melihat primata terutama owa. “Saya pernah lihat sekitar lima rombongan,” ujarnya. Suara owa kadang didengarnya setiap pagi atau senja menjelang. Primata lain juga sering dia temui. Lutung paling banyak ditemukan, satu rombongan bisa mencapai sembilan sampai sepuluh ekor ucapnya. “Monyet dan surili kadang turun ke ladang menjarah kebun jagung atau pisang,” ucap laki-laki yang mengaku telah berburu dari sejak umur tiga belas tahun ini.
Iseng, selingan membunuh waktu
Di gunung Limbung, Kabupaten Garut ada sedikit hal menarik tapi mengundang berjuta kekhawatiran, masyarakat disana berburu atas dasar iseng semata. Menurut keterangan yang dihimpun dari data tim Survei Primata Konus, perburuan dilakukan banyak yang sifatnya untuk pribadi. Masyarakat cenderung memilih apa yang didapatkan. Jika bagus dan masih hidup maka akan dipelihara, pun jika ada peminat tak akan ragu untuk dijual.
Menurut Ajat Sutarja, koordinator survei primata Konus wilayah Garut, perburuan biasanya dilakukan secara tidak sengaja, sebagai selingan ketika mengambil kayu atau rotan, buah dan tumbuhan. “Seperti ketika menunggu waktu panen, masyarakat biasanya akan berburu untuk membunuh waktu,” ucap laki-laki yang biasa dipanggil Ayut ini.
Ayut menambahkan, pola-pola seperti itulah yang harus diputus sehingga tidak terus mengakar. Menurutnya, masyarakat di gunung Limbung mungkin sudah mengerti, karenanya berburu bukan hanya sekedar karena kepentingan ekonomis semata, melainkan sudah menjadi budaya. “Kini tinggal bagaimana menindak lanjutinya,” ujar Ayut mantap.
Ketika ditanyakan tentang bentuk penyadaran yang pas agar masyarakat mau menghentikan aktifitas berburu, menurut laki-laki lulusan sarjana Biologi ini, itu tergantung kepala desanya masing-masing. Seperti pak Jajang, Kepala Desa Ciangkrong, menurut Ayut beliau mengerti konsep ekologis. Jika kehilangan satu binatang atau jenis tertentu maka kesempatan hutan untuk beregenerasi akan hilang. “Jika bagus, seperti pak Jajang, maka ia akan melakukan pelarangan,” ucap Ayut.
Menurut pengamatan beberapa anggota tim survei Konus, di Garut jika melihat dari pola umum, kebanyakan yang diburu masyarakat adalah burung. Tetapi akan berbeda jika misalnya ada senjata api, apapun akan ditembak. Seperti lutung, bajing, surili dan owa. Senjata tersebut biasanya hasil rakitan sendiri dengan amunisi berupa paku yang ditumbuk.
Di gunung Limbung secara umum keadaan hutannya relatif baik, tapi luasannya tidak sebanding dengan populasi owa serta primata lainnya yang ada. Kondisi ini hampir sama terjadi di daerah-daerah lain di Jawa Barat. Primata ditemukan pada hutan dengan luasan kecil, yang jumlahnya tidak sebanding dengan luasan hutan yang ditempati.
Mencari rumah baru
Sejatinya, sangat sukar untuk meliarkan kambali satwa yang telah lama dipelihara. Proses rehabilitasi dilakukan untuk pemulihan kesehatan. Lebih lanjut satwa yang setelah melalui berbagai penilaian masih bisa dilepasliarkan, akan mengikuti proses rehabilitasi lanjutan agar siap kembali ke habitat aslinya. Tentunya hal ini dibutuhkan proses yang panjang serta biaya yang tidak sedikit.
Dan walaupun telah masuk pusat rehabilitasi, itu tidak bisa menjamin bagi satwa untuk bisa liar kembali. Itu terkait kelayakan serta kondisi kesehatan. Apalagi bagi satwa yang telah dipelihara dari bayi, yang belum mengenal hutan sebagai rumah aslinya. Satwa dengan kondisi tersebut tidak pernah tahu bagaimana mencari makanan atau bertahan hidup di hutan. Diperlukan usaha keras untuk melatihnya.
Pertimbangan akan hutan yang benar-benar layak dengan nol ancaman, juga perlu analisis yang kuat. Dengan keadaan sekarang, susah untuk mencari hutan yang benar-benar layak untuk pelepas liaran. Seperti pertumbuhan manusia yang tinggi serta laju ekonomi dan degradasi sosial yang secara langsung mengancam terhadap ketersediaan sumber daya alam.
Menurut data yang dihimpun dari Bappenas, tentang Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Provinsi 2000-2025, kenaikan jumlah penduduk di Jawa Barat terus meningkat. Setiap lima tahun diperkirakan terjadi peningkatan sebesar tiga ribu jiwa. Tentunya hal ini akan seirama dengan bertambahnya kebutuhan akan sumber daya alam demi mencukupi kebutuhan hidup. Maka jika pengelolaannya masih kurang baik, kerusakan hutan serta eksploitasi sumber daya alam akan terus terjadi.
Dari apa yang telah terjadi, tingginya laju kerusakan hutan di Jawa Barat hanya menyisakan kurang lebih sepuluh persen hutan dari luas daratan. Roda kerusakan hutan yang terus berputar setiap detiknya ini mengakibatkan satwa liar hidup dalam luasan yang kecil dan terpotong-potong (fragmen). Kondisi ini akan semakin memarjinalkan keberaadaan satwa sebagai penghuni hutan. Mereka akan kehilangan sumber makanan serta rumah untuk berlindung. Lantas ketika ada cerita satwa liar turun ke perkampungan untuk menjarah makanan, mereka tak bisa disalahkan. Karena hutan sebagai sumber makanan mereka telah dijarah sebelumnya oleh ’mereka’, para manusia tak bertanggung jawab.
Untuk daya dukung optimal setidaknya Jawa Barat harus memiliki kawasan lindung empat puluh lima persen dari wilayahnya. Peran hutan lindung untuk konservasi sumberdaya alam hayati tidak bisa dipungkiri karena hutan yang tersisa sudah demikian kecilnya sehingga mempunyai nilai konservasi yang tinggi. Perlu dilakukan dengan segera terobosan baru demi menyelamatkan apa yang tersisa. Rusaknya hutan tidak hanya jadi ancaman bagi satwa liar, tapi semua kelangsungan makhluk hidup di bumi.
Intinya, dengan harapan yang tidak terlalu banyak dari pelepasliaran, perlu lebih dipikirkan bagaimana caranya melindungi satwa yang tersisa. Yaitu dengan memutus mata rantai perburuan, menjaga serta menghijaukan kembali hutan yang rusak sehingga satwa bisa hidup dan berkembang biak dengan nyaman. —ery bukhorie
Tags: owa jawa, primata jawa, satwa endemik







Januari 16, 2009 pada 3:38 am
Owa Jawa, jangan sampai mengikuti jejaknya Harimau Jawa. tinggal nama. yuk iku peduli, selamatkan owa jawa.