Pak Itam

Oktober 1, 2008

 

img-0393Namanya Pak Itam. Dia adalah kapten kapal Riak Bumi. Saat itu Pak Itam membangunkan kami untuk makan sahur. Nasi dalam kastrol serta ikan hasil tangkapan semalam telah sigap dia sajikan, dengan bumbu seadanya. “Ayo tambah nasinya” ucap pak Itam. Kami pun tak kagok, nambah nasi dan makan dengan lahap.

Setiap makan bersama selalu terasa nikmat, apapun menunya. Waktu buka kemarin, ada sedikit kejutan. Pak Itam memberikan kami sate ayam lontong, satu orang satu bungkus. Kami sedikit kaget, karena tidak mungkin ada tukang sate ayam di tengah danau begini. Ternyata Pak Itam membelinya tadi sore, ketika kami berlabuh di Suhaid menggunakan perahu panjang. Makan sate waktu itu di hanggar kapal, ditemani sisa senja dengan gradasi warna di langit. Pun, dengan alunan lagu keroncong yang sengaja diputar dari telepon genggam. Sangat syahdu! Pak Itam tampak apal beberapa bait lagu, sesekali mengiringi dengan siulannya. 

Memang, setiap senja sangat indah di sini. Kadang kami menghabiskan malam hanya dengan rebahan di hanggar kapal, sambil menghisap rokok dalam-dalam, melihat jutaan bintang serta mendengarkan senandung dari Pak Itam. Atau memancing sampai dini hari ditemani Pak itam yang hanya tersenyum ketika berhasil mendapatkan ikan kecil.

Pak Itam, seorang kapten kapal juga figur Bapak bagi kami saat itu. Berat rasanya ketika kami harus pergi dan meninggalkan Pak Itam seorang diri.,

lihat selengkapnya di sini

Tags: ,

Tinggalkan Balasan