“Kami tak mau sampai bermusuhan dengan sanak saudara kami sendiri. Kami tak mau jadi budak di tanah kami sendiri. Kami menolak hadirnya sawit di sini!” demikian ucap Bapak tua itu. Dengan suara lantang dan mata yang tampak berkaca-kaca, seakan-akan raut mukanya meminta pertolongan. Mungkin itu pula apa yang tergambar pada semua orang yang hadir saat itu. Bapak dan Ibu-ibu tua, orang-orang dewasa, bahkan anak-anak kecil yang sedikit kebingungan terhadap apa yang dibicarakan saat itu. Dan semua generasi beda usia itu sama-sama memiliki harapan yang sama, tak ingin hidupnya dirampas ketika sawit dibuka di lahan mereka.
Itu sedikit cerita ketika saya ikut bersama beberapa kawan berkunjung ke sebuah dusun di perbatasan Indonesia-Malaysia di pedalaman Kalimantan Barat. Puring Kencana, demikian nama dusun tersebut. Dengan letak hanya kurang lebih satu jam dari Malaysia, secara tak langsung telah membuat segala kebutuhan hidup mereka, didapatkan dari negara sebelah, mengingat jarak serta akses yang buruk jika harus ke pasar terdekat di negara mereka sendiri, Indonesia.
Hal itu pula yang dijadikan pembenaran oleh koorporasi sawit untuk coba membuka usahanya di tanah milik masyarakat Dayak ini. Dengan segala iming-iming yang banyak bohongnya, mereka berusaha meyakinkan masyarakat di perbatasan bahwa dengan dibukanya sawit akan mensejahterakan rakyat. Kadang, saking jahatnya si koorporasi, mereka melibatkan kekerasan serta politik adu domba untuk turut serta demi keuntungan (tanpa keadilan) yang akan mereka dapatkan kelak, jika seadainya sawit jadi dibuka.
Tapi masyarakatpun tidak bodoh dan buta, dari apa yang sudah terjadi di daerah yang lain, pembukaan sawit telah banyak menimbulkan kerugian. Masalah ekonomi, sosial, budaya, dan kerusakan lingkungan adalah beberapa diantaranya. Bercermin dari itu, masyarakat di sini tak rela jika mereka harus menjadi korban berikutnya. Tapi sebenarnya, di benak semua masyarakat di Puring Kencana, terbesit kekhawatiran yang besar ketika harus melawan kekuatan koorporasi yang besar itu. Ketika ini terjadi, lantas dimanakah peran serta aparatur negara yang berkewajiban memberikan keadilan serta kesejahteraan bagi masyarakat? karena sampai saat ini sudah banyak sawit yang telah dibuka, dan tak sedikit masyarakat yang telah menjadi korban!
selengkapnya di sini
Tags: borneo, kalimantan barat, puring kencana, sawit






