Para koboy lokal itu tampak bergegas dengan setelan topi “laken”-nya yang khas. Bukan kemeja kulit yang mereka kenakan, tapi baju pangsi serba hitam yang turun di badan. Bukan revolver yang melingkar di pinggang, tapi golok asli buatan banten dengan ukiran kepala singa-nya yang khas. Dan bukan kuda yang mereka tunggangi, tapi domba kekar yang mereka bawa serta untuk dijadikan sebagai petarung sejati.
Prosesi ‘ngadu‘ domba adalah hajat bersama. Itu terlihat dari histeria kolektif para penonton yang datang. Mereka datang untuk mendukung petarung idola, lengkap dengan segala atribut yang membuat suasana di Babakan Siliwangi semakin meriah. Tarian kemenangan di panggung serta saweran, sesekali dilakukan para koboy itu tatkala ada domba yang terjungkal. Ada gengsi disela-sela raungan bunyi tanduk itu.
Tapi, sesunguhnya bukan hanya kemenangan yang dicari para juragan domba itu di kompetisi bulanan adu domba ini. Adalah kesukacitaan dan perjumpaan dengan kerabat yang mempunyai tensi emosional lebih tinggi dari sekedar gengsi. Pun mereka telah berperan dalam melestarikan tradisi budaya, di tengah laju peradaban yang menggila ini.
selengkapnya di sini





