Semalam, karena tak bisa tidur (secara tak sengaja) saya melihat sebuah film perang yang sarat akan adegan cipratan darah, rentetan agresi dan desingan amarah yang membabi buta. Dan seperti biasa, karena film ini produk Holywood, Amerika-lah jagoannya. Dengan semua luapan kenarsisan akan kegagahan pasukannya, kecanggihan serta kemutahiran peralatan tempur yang mereka pakai. Dan tetap, negara-negara dunia ketiga-lah yang menjadi objek untuk mereka kalahkan. Tentu, teroris adalah alasan utamanya. Sebuah penipuan terbuka dengan segala kebohongan yang tidak samar demi terciptanya sebuah kolonialisme bentuk baru. itu adalah alasan yang sangat tidak canggih dan tidak mutahir.
Besok paginya, di surat kabar lokal, saya membaca sebuah artikel yang membahas seputar senjata api. Dimuat satu halaman penuh, lengkap dengan foto-foto yang menarik. Di artikel turunannya, dikupas seputar tingginya animo masyarakat dalam hal kepemilikan senjata api. Artikel tentang alat pelontar timah panas ini, diletakkan bersebalahan dengan halaman berita yang melaporkan tentang pembobolan sebuah mesin atm. Judulnya sangat provokatif, dengan penggunaan huruf yang sangat besar. Mungkin ini kemauan dari si redaktur agar jadi perhatian orang untuk membacanya.
Masih di pagi hari, ketika mencicipi sarapan, tiba-tiba pandangan saya tertuju pada sebuah berita di televisi yang melaporkan tentang sebuah kasus mutilasi yang dilakukan ibu kepada anaknya. Tanpa perasaan, si ibu “sakit jiwa” tersebut menghabisi nyawa anaknya sampai kepalanya terputus. Setidaknya berita ini telah berhasil membuat sarapan sup jagung saya pagi itu, menjadi terasa agak hambar.
Ketika hendak bekerja, sejenak saya melihat isi kotak surat elektronik yang masuk ke alamat saya. Di dalamnya terdapat sebuah postingan berita tentang hilangnya seorang aktivis mahasiswa. Diberitakan bahwa, kemungkinan hilangnya mahasiswa tersebut karena penculikan, atas eksistensinya di pergerakan kampus.
Ceritanya telah sampai di rumah. Ketika hendak merebahkan badan, lelah karena padatnya aktivitas hari itu, pun karena malam telah larut, saya nyalakan televisi dengan harapan bisa jadi media penghantar tidur. Headline news menyapa dengan berita utama tawuran antar mahasiswa dengan korban luka-luka yang tidak sedikit. Waktu dini hari sempat terbangun, televisi lupa untuk dimatikan karena ketiduran. Terlihat seorang wanita (dipaksakan) seksi membawakan sebuah acara infotainment dengan berita seputar perceraian artis ternama abad ini.
Suatu hari yang indah buat saya :) Kadang, media massa yang idealnya berfungsi utama sebagai sebuah sarana informasi yang mendidik, dengan sajian berita yang faktual, aktual dan informatif, mengesampingkan hal itu. Demi tujuan rating iklan dan jumlah permirsa, unsur hiburan (yang tidak mendidik) menjadi lebih ditonjolkan. Seperti sinetron dan infotainment yang telah menjadi teman setia ibu-ibu (bahkan anakk-anak). Dari pagi sampai pagi lagi. Pun liputan berita yang disuguhkan, lebih kepada sajian berita horor yang mencekam.
Akankah bayangan akan kenikmatan ketika mencicipi kopi di pagi hari, sembari membaca berita tentang pendidikan gratis atau keharmonisan antar suku bangsa, ras dan agama yang benar-benar terjadi tanpa ada motif atau kepentingan di belakangnya, hanya akan terjadi di negeri utopis sana?
Tags: media tak mendidik






November 27, 2008 pada 4:46 pm
hmm.. sup jagung yah?
kaya yang enak..
makan sup jangung dimana?