against the wall

Januari 3, 2009

against the walls

Si sapi mungkin tak mau tahu apa yang ada di sekelilingnya. Dia mungkin hanya berharap agar segera “dimusnahkan” dengan khidmat saat itu, demi kesejahteraan kaum manusia. Terlepas dari apa yang akan terjadi pada si sapi. Saya, sebagai salah satu kaum itu, yang diciptakan paling mulia dari semua makhluk, tentu miris melihat pemandangan ini. Tanah lapang tempat saya bermain bola dulu, kini tergantikan oleh bangunan tinggi mewah yang hanya bisa diakses oleh mereka para kaum arikstokrat dan borjuis. Dinding megah berinisial koorporasi itu telah merampas hak bermain bagi anak-anak kecil di kampung saya. Mereka kini hanya bisa berimajinasi di balik dinding megah nan miris itu. Tentang bola plastik yang seharusnya mereka tendang melambung di tanah yang sudah bertuan itu. Turut berduka cita atas hilangnya lapangan bola di tempat saya besar dan dilahirkan.

Tinggalkan Balasan