Wuusshhh…! bola murah produk lokal itu pun melambung di udara. Pemain sayap berbaju kuning menyambut datangya bola dengan lompatan dan busungan dada. Hups!! bola hinggap di dada, mencetak bentuk segi enam berwana cokelat di kaosnya yang lusuh. Tiba-tiba, terjadi manuver tajam dari tengah. Penyerang berambut jambul bergegas menuju mulut gawang. Gagah, dengan kaki tak bersepatu dan celana panjang yang digulung. Umpan lambung terkirim dari sayap, dengan laju bola yang deras dan menukik. Bola disambut dengan kaki tak besepatu yang dekil nan berotot. GOOOLLL!!!! es cingcau gratis sedikit aman di tangan. Selebrasi serta teriakan kemenangan melengking di udara, mendekati awan yang terasa sangat dekat di sini.
Suatu pemandangan indah yang sudah sangat lama jarang aku lihat. Pertandingan sepak bola antar kampung di sebuah lapang bola bertanah luas. Tanah yang tak bertuan, tak berbeton, dan tak berpagar. Tanah lapang dengan rumput asli bukan sintetis dan udara sejuk yang asli, bukan atas rekayasa teknologi.
Sore itu, si bola kembali menari. Menjelajah diantara riam gelombang udara. Diantara butir-butir awan nan tipis. Di ketinggian 1780 meter dibawah permukaan laut, dengan latar kota Bandung yang tampak semrawut.






