Walau tak ada lagi yang harus aku kerjakan malam itu, rasa-rasanya pikiran tak pernah bisa diam. Ia meloncat-loncat seperti hendak menciptakan sketsa tentang sesuatu. Eksodus perasaan yang berkelompok, tampaknya siap menyerang otak sebagai sasaran. Suara-suara yang datang dari pikiran secara bersahutan, juga menambah sesaknya otak. Seperti tak menyisakan ruang bagi harapan yang sebenarnya ingin aku ajak pula.
Ya, mungkin ini karena miskinnya oksigen yang aku hirup hari ini. Hari-hari yang selalu ditemani laptop dan sambungan internet. Di sebuah kamar yang telah berfungsi sebagai ruang kerja beberapa bulan belakangan ini. Tanpa dikomondoi kehendak, aku gerakkan kaki keluar kamar menuju balkon di belakang.
Langit sangat terang malam itu, semua bintang tampak terlihat jelas berkerumun. Aku duduk di atas sofa usang ditemani dua ekor anak kucing yang sedang tertidur lelap. Kubakar rokok kretek yang sengaja kubawa tadi ketika keluar. Aku hisap dalam-dalam setiap incinya, dengan harapan semoga asapnya bisa membawa serta semua pikiran aneh yang menyesaki otak saat itu.
Kurebahkan kepala sembari coba menerka apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku saat itu. Waktu terus berjalan seakan tak mau tahu tentang apa yang terjadi. Pikirku, mungkin ini suatu gejala yang wajar terjadi di menit-menit akhir, ketika seseorang akan menjadi semakin tua. Dengan semua dilema yang datang secara tiba-tiba. Pun seperti memikirkan banyak hal yang sebenarnya tak perlu untuk dipikirkan.
Rokok yang kupegang, sudah tinggal setengahnya. Dan waktu menunjukkan tinggal itungan detik saja menuju ke pergantian masa yang akan sangat berarti bagi hidupku. Kutegakkan bedan, dan kusimpan sejenak rokok tersebut.
Akhirnya, 00:00 24.04.09. Diiringi dengan suara malam dan harapan yang terbawa angin, aku menjadi lebih tua. Kupejamkan mataku seraya berdo’a dalam hati. Do’a tentang rasa syukur yang mendalam kepada-Nya atas semua rahmah dan karunia-Nya kepadaku. Do’a tentang ucapan terima kasihku yang tulus kepada semua orang yang telah sangat baik kepadaku. Do’a tentang permintaan maafku atas semua khilaf yang masih selalu aku lakukan. Do’a tentang semua harapanku yang semoga terwujud di usiaku yang semakin tua.
Kuucapkan juga janji. Tentang sesuatu yang akan aku coba tepati dan semoga terwujud di kemudian hari.
Setelah kuucapkan itu semua, kubuka kembali mataku. Bintang-bintang itu masih bertaburan dan terang menghiasi langit. Sangat indah. Semoga ini adalah suatu pertanda tentang awal yang baik bagi diriku. Amien,.






