
“Perang melawan keinginan sendiri.”
Itulah judulnya. Kutipan ini secara tidak sengaja kusimak dari perkataan seorang kawan. Sebenarnya, kalimat itu tidaklah asing. Bahkan sering dirasa seperti sesuatu yang sepele. Tapi bukankah dari hal-hal yang sepele suka berdampak super?
Bagiku kalimat itu sangatlah renyah. Apalagi jika telah dilakukan. Seperti bersepeda melewati jalan yang lengang di pagi hari. Kalimat itu terasa menantang. Seperti melewati sekumpulan jeram di hulu sungai. Riaknya membuat keringatku keluar, mengalahkan dahaga adrenalin yang tidak berasa.
Aku sedang menjalankan itu. Mencoba keluar lebih jauh (lagi) dari zona nyaman. Berlayar kembali dengan perahu yang telah lama aku tambatkan. Melewati gelombang ego dan gemuruh pembenaran yang diciptakan oleh pikiran. Menerjang amukan waktu yang menampar terus dan tidak aku rasakan. Aku telah terlena. Akan aku bunuh rasa itu.
Aku berlayar meninggalkan ruang yang telah membuatku sangat nyaman. Menghampiri ruang dan sosok-sosok asing yang akan aku taklukkan kelak. Karena aku seorang serdadu yang tidak akan pernah kehabisan peluru. Aku tidak akan pernah meninggalkan garis depan!
Di penghujung (yang katanya) gerbang menuju kematangan ini, kadang semua pilihan selalu diputuskan dengan penuh pertimbangan. Ketika aku telah memilih, itu akan aku jalani dengan penuh rasa tanggung jawab. Dan akan aku selesaikan semua pekerjaan itu.
Malam ini aku telah berbicara. Lewat monologku yang terdengar oleh suara hati. Atas nama cinta dan keyakinan, di Buitenzorg yang aku singgahi.
- Untuk Singa -

crimethInc. ex-workers collective
esai foto jamtigapagi
lingkarhijau
portofolio foto jamtigapagi
the big ask – friends of earth