Ketika kuturuni tangga itu, ruangan di bawah tampak gelap. Ternyata emang sudah larut malam, lampu-lampu sudah ibu padamkan, dan aku (lagi-lagi) tidak menyadari itu. Aku terlalu asik dengan apa yang aku kerjakan. Tapi mau bagaimana lagi, ini harus aku lalui demi apa yang sudah aku targetkan tahun depan.
Lampu aku nyalakan. Jam 1:30 dini hari. Kulkas itu aku buka. Entah sudah berapa lama kulakukan ritual ini, bersahabat dengan masakan dingin dalam keheningan dua pertiga malam. Sembari mengisi perut yang entah makan malam yang kelewatan atau sarapan yang terlalu awal, kuamati bingkai-bingkai foto di ruangan tengah. Mereka adalah teman bicaraku. Walaupun tak pernah manjawab apa yang aku tanyakan, aku suka dengan diamnya mereka. Kuamati wajah-wajah yang sangat aku cintai. Sosok-sosok yang akan terus aku lindungi. Kurasakan kehangatan yang sangat. Kehangatan dari senyuman Juan dengan kacamatanya yang kebesaran. Dari keluguan Ani dan Ufa yang sangat akrab. Pun dari senyuman Bapak dan Ibu yang berdiri di tengah keluarga besar ketika semua berfoto bersama di halaman depan.
Aku percaya kebahagiaan timbul karena kesederhanaan. Itu tercipta karena sabar dan mensyukuri apapun yang kita terima. Itu ada ketika kita saling tolong menolong antar saudara, saling membantu. Itu terasa ketika kita saling berbagi, dalam senang ataupun duka. Itu ada dalam sayur kacang, kerupuk dan tahu, yang hampir setiap malam menjadi menu santapan kami dulu. Semua itu aku rasakan dalam keluarga yang sangat aku banggakan ini.,

crimethInc. ex-workers collective
esai foto jamtigapagi
lingkarhijau
portofolio foto jamtigapagi
the big ask – friends of earth