Minggu sore, 24.04.2011. Langit saat itu mendung, jalan-jalan tampak basah sisa hujan siang tadi. Aku keluar rumah, dengan harapan ada satu dua orang yang bisa aku sapa. Diskusi tentang hal-hal ringan, sekedar untuk melepaskan kerinduan dengan mereka yang pernah menjadi bagian sejarah dalam hidupku. Atau aku yang hanya mencoba menjalankan peranku sebagai makhluk sosial, mencoba keluar dari dunia yang kuciptakan sendiri. Yang penuh dengan rasa ego dan sinis sebagai musuh yang selalu aku lawan. Tapi, sejujurnya sore itu hendak kucari kehangatan semangat di gerbang pergantian tahun(ku).
Tanpa disadari, sudah hampir dua jam aku lalui. Sore pun sudah berganti malam. Sudah juga aku lalui jalan, belokan, sudut, dan suasana yang sama. Benar-benar aku tidak menyadari itu, dan aku masih sendiri tanpa teman yang berhasil kutemui untuk diskusi, ataupun sekedar bertegur sapa. Dan aku masih sendiri, di kota yang sangat aku kenal. Pun, di kota yang kini telah membuatku terasing.
Maghrib tiba, akupun mampir di sebuah masjid. Alhamdulillah aku rasakan sedikit kehangatan di sini, walau dengan puluhan sosok yang sebenarnya tidak aku kenal. Lalu tiba-tiba, aku teringat akan seorang sosok. Yang akan sangat aku cintai, sayangi, lindungi kelak. Sosok yang akan selalu membuatku pulang ke kota ini.
Selepas itu, aku putuskan pulang ke rumah. Dengan membawa rentetan pertanyaan di pikiran, yang akan menjadi bahan dalam apa yang akan aku lamunkan di sepanjang sisa malam ini. Sampai akhirnya membuatku tertidur, dan terbangun di hari yang baru esok hari.
“Dan kelak isterimu-lah yang akan menjadi teman, rekan diskusi, tempat berbagi perasaan suka dan duka di sisa umur hidupmu. Ketika kau menyadari bahwa teman-teman di sekitarmu telah ‘meninggalkanmu’ disibukkan dengan urusannya masing-masing.”
-tuan pagi 25.04.2011-

crimethInc. ex-workers collective
esai foto jamtigapagi
lingkarhijau
portofolio foto jamtigapagi
the big ask – friends of earth